mahasiswa tingkat akhir Filsafat dan Teologi IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Perdebatan sengit antara Jurgen Habermas dan para filsuf pascamodernis, terutama Derrida, merupakan kejadian penting dalam sejarah filsafat kontemporer. Buku The Philosophical Discourse of Modernity: Twelve Lectures merupakan karya Habermas yang orisinal dan memperbincangkan banyak hal mengenai diskursus filsafat mutakhir, khususnya bab yang menyerang para filsuf pascamodernis.
Karya tersebut merupakan sintesis ambisius tentang filsafat pasca-Hegelian, sebuah kritik-diri bagi tradisi teori kritis, penolakan terhadap filsafat yang berdiri di atas pijakan rasio yang berpusat pada subyek, dan pembelaan yang menggebu-gebu terhadap gagasan non-totalizing dari proyek modernitas. Semua tema ini bermuara pada gagasan Habermas mengenai "kritik radikal atas rasio" yang terkait-erat dengan "kritik referensi-diri". Menurut Habermas, problem "kritik radikal atas rasio" telah merontokkan teori kritis Marx Horkheimer dan Theodor Adorno, dan krisis tersebut memuncak di dalam karya-karya kaum pascastrukturalis, seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida.
Tulisan ini akan berusaha melukiskan persoalan di sekitar teori kritis Horkheimer dan Adorno serta pokok-pokok argumen yang dikembangkan Habermas dalam rangka kritiknya terhadap Derrida, serta bagaimana persilangan antara teori tindakan komunikatif Habermas dan teori dekonstruksi Derrida. Dalam mendiskusikan Derrida dan dekonstruksi, tulisan ini tidak akan membahas titik-tengkar antara Habermas dan Derrida dengan mereduksinya semata pada kekhasan pribadi filsafat keduanya, tapi lebih jauh berusaha mengidentifikasi klaim dasar teoritis dekonstruksi dalam pertentangannya dengan Habermas yang berada dalam argumetasi rasional.
Horkheimer dan Adorno berusaha menampik rasio modernitas yang merupakan anak kandung pencerahan. Upaya yang dilakukan Horkheimer dan Adorno itu, menurut Habermas, terjebak dalam kritik referensi-diri karena keduanya berusaha mengungkapkan dialektika pencerahan tanpa merevitalisasi kapasitas rasio kritis. Bagi Adorno dan Horkheimer, kedigdayaan rasio kritis telah ditelan oleh dominasi karena perluasan rasionalitas instrumental. Pertanyaannya: jika kita telah kehilangan kapasitas rasio kritis, bagaimana kita dapat mengungkap masalah hilangnya kapasitas rasio kritis?
Teori kritis Horkheimer dan Adorno, dalam pengertian performatif, melihat eksistensi rasio direduksi semata pada rasio instrumental atau semata dimengerti dalam kerangka klaim-klaim kekuasaan. Seturut dengan pengertian ini, setiap usaha untuk melawan dominasi rasio instrumental niscaya akan terperangkap dalam kontradiksi. Dalam bahasa Habermas, kontradiksi ini disebut kontradiksi performatif, suatu pernyataan yang membantah dirinya sendiri. Adorno, demikian Habermas, tidak hanya menyadari kontradiksi performatif ini, bahkan dengan inspirasi dari Nietzsche, Adorno secara lantang menyerah dan menemui jalan buntu. Sikap Adorno yang pasrah dianggap Habermas sebagai indikasi gagalnya generasi pertama mazhab Frankfurt dalam mengatasi jalan buntu berhadapan dengan dominasi rasio instrumental.
Berhadapan dengan pertanyaan mengapa Horkheimer dan Adorno menanggalkan teorinya pada posisi yang tanpa jalan keluar, Habermas mengemukakan keterbatasan konsep mereka mengenai rasio. Horkheimer dan Adorno hanya melihat hubungan subyek-obyek dalam kerangka rasio instrumental. Berpangkal tolak dari kenyataan ini, Habermas menyatakan perlunya memperluas konsep mengenai rasio, yaitu rasio yang memusatkan perhatiannya pada relasi intersubyektif (subyek-subyek) dalam teori tindakan rasio komunikatif.
Habermas melihat Horkheimer dan Adorno tidak memiliki konsep rasio komunikatif dan cenderung mereduksi relasi intersubyektf yang memuat komitmen praktis-etis ke dalam relasi subyek-obyek yang termuat di dalamnya relasi instrumental; orientasi pada kekuasaan. Pemikiran Horkheimer dan Adorno tidak dapat diterapkan dalam rangka mendiagnosis masyarakat Barat modern, apabila secara berlebihan melihat masyarakat dari sudut rasionalitas instrumental. Jika kita menelusuri garis argumentasi ini, kita dapat menyatakan bahwa Horkheimer dan Adorno tidak memiliki perangkat konseptual untuk menghindari paradoks kritik referensi-diri yang menggiring keduanya dalam kontradiksi performatif.
Gagasan Habermas mengenai tindakan komunikatif mengandaikan kapabilitas perbincangan dan tindakan di dalam orbit argumentasi rasional. Pada titik inilah sebenarnya Habermas akan menjumpai dilema baru, yaitu berhadapan dengan fakta bahwa argumentasi rasional hanya salah satu dari sekian ragam modus perbincangan. Bahasa puitik menjadi eksemplar dari bentuk komunikasi yang tak berpijak di atas aras argumentasi. Sebagaimana diungkapkan Habermas, argumentasi meliputi baik eksplisit maupun implisit pengakuan akan ruang validitas dan kekuatan argumen yang lebih baik sebagai hasil akhir dari situasi perbincangan bebas paksaan. Dan jika gagasan Habermas mengenai kontradiksi performatif ini integral dengan praktek argumentasi rasional, berarti praktek ini hanya terbatas pada norma-norma praktek diskursif. Habermas akan menemui kesulitan pada mereka yang meninggalkan upaya perbincangan argumentatif.
Hal itu penting untuk dikemukakan ketika berhadapan dengan fakta bahwa filsuf seperti Heidegger menyatakan kegelisahannya dengan filsafat yang selalu terjebak oleh pemikiran diskursif, ia hendak meloloskan diri dari kekuatan argumen dengan menempatkan eksistensi kompetensi kognitif di seberang "refleksi diri", di seberang pemikiran diskursif. Sebagaimana juga Nietzsche yang masih membayangkan sebuah upaya berfilsafat dengan model kesenian, bagi Heidegger "there is a thinking more rigorous than the conceptual".
"Refleksi diri" perlu dipahami dalam wawasan Idealisme Jerman. Refleksi diri mengacu pada Fichte, filsuf Jerman yang sezaman dengan Hegel. Fichte menyatakan bahwa rasio mengandung dua segi, yaitu kehendak dan kesadaran. Gagasan ini lebih jelas dalam pandangan Hegel, bahwa rasio kita memiliki kesanggupan untuk mengatasi kendala-kendala yang merintangi kemampuan realisasi diri untuk mencapai otonomi dan tanggung jawab. Hegel memakai suatu ilustrasi yang masyhur, yaitu dialektika tuan dan budak. Realisasi diri merupakan kosakata yang setara dengan "kritik" atau apa yang di dalam tradisi mazhab Frankfurt disebut sebagai "rasio kritis". Teori tindakan komunikatif Habermas merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan proyek modernitas melawan tantangan dari para Nietzschean dan Heideggerian. Dengan alasan inilah, munculnya kembali tema-tema Nietzschean dan Heideggerian dalam diskursus filsafat kontemporer Prancis menjadi medan pengujian proyek filosofis yang dibangun Habermas, dan salah satunya perselisihan dengan Jacques Derrida, seorang filsuf Yahudi Prancis kontemporer.
Marie Fleming, salah seorang pengritik Habermas, menyatakan bahwa Habermas menempatkan Foucault sebagai pengikut Nietzsche dan Derrida merupakan penerus Heidegger. Bagi Fleming, Habermas menganggap Derrida gagal untuk mencari jalan keluar dari filsafat yang berpusat pada subyek, karena Derrida mengganti subjektivitas transendental dengan Urschrift atau tulisan primordial (Archewritting)--suatu tulisan primordial yang menghasilkan struktur tanpa subyek. Derrida membayangkan adanya sistem penanda-penanda imaterial yang menjadi basis bahasa. Tulisan adalah sebentuk kenyataan yang dapat ditafsirkan sampai tak terhingga, lepas dari konteks kejadian, penulis, dan pembacanya.
Gambaran Habermas mengenai proyek filsafat Derrida sesungguhnya masih dihantui oleh kecemasannya mengenai kritik radikal rasio dan secara tidak adil melihat bagaimana pokok-pokok penting yang dikemukakan Derrida ketika membaca fenomenologi Husserl, yaitu "keterbacaan" adalah pengandaian dari seluruh tindakan intensional. Derrida meradikalkan Husserl yang berusaha membela adanya kesadaran murni, ego transendental, dan menghindari kemungkinan intersubyektivitas. Husserl membedakan tanda sebagai sign dan signal, yang pertama memiliki acuan pada obyek, misalnya proposisi, sedangkan yang kedua mengacu pada pengalaman tertentu, misalnya mimik muka. Husserl menganggap bahwa komunikasi merupakan pertautan antara sign dan signal. Identifikasi makna dalam percakapan dicapai lewat kepastian intuitif subjek transendental dan bukan melalui intersubjektivitas.
Bagaimanapun, demikian Fleming, klaim bahwa Derrida terjebak pada subjektivitas filsafat modern tak menjadikan posisi argumen Habermas lebih kuat berhadapan dengan proyek filsafat Derrida ketimbang apa yang ia lakukan terhadap Foucault. Sebab, tidak sebagaimana Foucault, Derrida telah meninggalkan upaya filsafat untuk terus argumentatif dan rasional. Habermas lebih jauh menyatakan bahwa Derrida--tidak sebagaimana Heidegger--tidak memberi status khusus terhadap Andenken. Dan dalam esei kedua mengenai Derrida dalam The Philosophical Discourse of Modernity, Habermas berusaha mengungkap dasar penolakan Derrida terhadap norma-norma argumentasi. Sayangnya, demikian Fleming, inilah kekeliruan Habermas, yaitu melihat Derrida dari uraian-uraian para penulis yang mendukungnya dan rekonstruksinya terhadap argumen-argumen Derrida sangat dipengaruhi oleh teks-teks yang ditulis oleh orang lain. Habermas berusaha membela prosedur argumentatif rasional dengan menyatakan Derrida tidak termasuk dalam barisan para filsuf yang mencintai argumentasi dalam rangka proyek filsafatnya.
Konklusi paling umum yang dapat ditarik Fleming mengenai penilaian Habermas terhadap Derrida adalah anggapan mengenai Derrida sebagai penerus Heidegger, yang berimplikasi pada asumsi bahwa Derrida tak dapat disangkal menggunakan gaya yang tak lazim dalam berfilsafat, yaitu menghindari upaya argumentatif dalam membangun proyek filsafatnya. Dekonstruksi Derrida juga didasarkan pada pengandaian akan pembalikan primat logika terhadap retorika. Pembalikan ini, menurut Habermas, adalah satu bentuk penolakan terhadap fungsi filsafat yang memiliki kapasitas sebagai pemecah masalah yang diandaikan berlangsung melalui argumentasi rasional.
Bahkan lebih jauh, Derrida dengan sengaja mengawetkan pernyataan-pernyataan paradoks, yaitu setiap interpretasi tak dapat dihindari sebagai kekeliruan interpretasi, dan segala upaya memahami sebagai kesalahpahaman. Kenyataan ini juga yang memungkinkan Derrida menampik dakwaan kontradiksi performatif, karena--sebagaimana diungkapkan diatas--kontradiksi demikian menghajatkan derajat tertentu komitmen pada praktek-praktek argumentatif. Perbincangan mengenai kontradiksi berlangsung apabila syarat-syarat konsistensi terpenuhi. Ihktiar Derrida mengembalikan bahasa puitik ke dalam filsafat sesungguhnya mematahkan supremasi logika atas retorika, sehingga apa yang dikehendaki Habermas, yaitu konsistensi berdasarkan primat logika atas retorika, kehilangan otoritasnya dalam menilai karya-karya yang ditulis Derrida. Strategi yang dijalankan Habermas dalam upayanya melawan kaum pascamodernis, yakni dengan mengidentifikasi pembalikan, tanpa sadar menyokong filsafat yang berpusat pada subyek, dan kemungkinan kontradiksi performatif.
Apakah Derrida meninggalkan argumentasi rasional?
Dekonstruksi--sebagaimana dipraktekkan Derrida--adalah komitmen yang mengakui "The ethics of discussion....the rule of academy, the university, and of publication". Derrida menolak dengan tegas bahwa dekonstruksi disejajarkan dengan kritik gaya penulisan atau primat retorika atas logika, bahkan menolak pemikiran yang menyatakan bahwa setiap interpretasi adalah tak dapat dihindari sebagai kekeliruan interpretasi, dan Derrida menyatakan dirinya bagian dari para filsuf yang mencintai argumentasi.
Pada bagian lain, Habermas mengakui pentingnya perhatian dekonstruksionis mengenai differance. Dengan differance tidak dilihat sebagai jalan keluar dari filsafat yang berpusat pada subyek, Derrida memfasilitasi sebuah proses dekonstruksi atau destabilisasi yang masih terkait dengan argumentasi. Pertanyaannya kemudian, mengapa Habermas memegang klaim tersebut dan apa implikasinya bagi teori tindakan komunikasi Habermas? Sepertinya Habermas khawatir terhadap non-identitas atau differance atau permainan yang tak dapat dielakkan akan merasuki norma-norma inteligibilitas atau struktur rasionalitas. Derrida bermaksud mendorong secara kuat pengunduran pemikiran filsafat. Dalam bukunya yang berjudul After Word: Toward an Ethic of Discussion, Derrida mengatakan: "What has always interested me the most. What has always seemed to me the most rigorous...the strictest possible determination of the figures of play, of oscillation, of undecidability, which is to say, of the differancial conditions of determinable history, etc".
Dekonstruksi, sebagaimana genealogi, akan menyeret kita pada persoalan bahwa problem "kehendak" selalu terungkap melalui diskursus, serta akan mempersoalkan gagasan Habermas mengenai "konsensus bebas paksaan", bahkan implikasinya adalah menempatkan gagasan Habermas mengenai paradigma komunikasi menjadi tanda tanya besar. Sekurang-kurangnya inilah titik perhatian Habermas; pandangan bahwa instabilitas inhern dalam struktur rasionalitas akan menjebaknya dalam suatu kesulitan yang tak mudah untuk diatasi. Dan jika masih ada ruang terbuka untuk Habermas, maka ruang itu adalah diskusi mengenai historisitas relasi kuasa yang turut menentukan praktek-praktek rasionalitas.
Kita dapat menganalisis soal itu dari dua sudut yang berbeda. Pertama, norma-norma inteligibilitas memang bersifat histories-kultural sebagai implikasinya adalah norma-norma tersebut instabil. Tetapi struktur rasional tetap bersifat formal dan prosedural. Derrida memang hendak memperlihatkan instabilitas norma-norma inteligibilitas dalam arti bersifat historis kultular dan Derrida tidak memusatkan perhatiannya terhadap aspek yang ingin diselamatkan Habermas, yaitu usaha untuk terus tanpa henti memeriksa struktur rasionalitas. Di sisi lain, dalam rangka dekonstruksi, Derrida telah menanggalkan distingsi dogmatis antara yang formal dan yang substantif. Kedua, pun seandainya kita sepakat bahwa struktur rasionalitas tak dapat disejajarkan dengan norma-norma inteligibilitas yang bersifat historis-kultural, kita masih dapat menyatakan bahwa struktur rasionalitas bersifat stabil. Stabilitas itu tak dapat dijelaskan dari pandangan mengenai para peserta diskusi dalam modernitas; bahkan dari pandangan Habermas mengenai struktur rasionalitas yang stabil, baku, niscaya dan tak terelakkan.
Persoalan yang perlu dipertimbangkan lebih jauh ialah meskipun dekonstruksi tidak meninggalkan argumentasi rasional, Habermas masih memiliki peluang untuk mengungkapkan kontradiksi performatif, sebagai contoh, pernyataan Derrida bahwa dekonstruksi ditujukan pada konvensi mengenai teori, sains, dan filsafat. Derrida sebenarnya ingin mengemukakan bahwa dekonstruksi adalah sejenis penolakan terhadap konvensi mengenai teori, sains, dan filsafat serta argumentasi rasional yang menyertainya, semacam upaya menelanjangi aturan main yang mengikuti teori, sains, dan filsafat untuk mendapatkan celah bagi usaha destabilisasi. Jika memang Derrida tidak sungguh-sungguh menolak praktek-praktek argumentatif, mungkin Derrida hanya hendak mendevaluasinya. Devaluasi ini tampak jelas atas nama rasio yang tak dapat di reduksi semata-mata pada rasionalitas instrumental, yang bersifat afirmatif, tetapi pada wilayah-wilayah dekonstruksi: otherness, keragaman dan perbedaan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bukankah dekonstruksi mengulangi kegagalan Teori Kritis generasi pertama yang berusaha mengungkapkan cita-cita rasio?
Kritik Habermas terhadap Derrida menjadi problematik, menempatkan Derrida sebagai penerus Heidegger daripada Nietzsche. Derrida tak dapat dihubungkan dengan salah satu dari dua alternatif yang disodorkan oleh Habermas: konsep rasionalitas instrumental yang diterapkan pada relasi subyek-obyek, atau memperluas konsep rasio yang membutuhkan teoritisasi struktur rasionalitas sebagai sesuatu yang stabil, niscaya, dan tak terhindarkan. Alternatif ini tidak adekuat, karena dekonstruksi tak memiliki klaim dasar teoritik. Adalah mungkin menguji stabilitas struktur rasionalitas di dalam dan melalui argumentasi rasional, dan kita memerlukan sebuah cara dalam mengembangkan gagasan mengenai rasio yang merefleksikan pengertian tersebut.
Karya tersebut merupakan sintesis ambisius tentang filsafat pasca-Hegelian, sebuah kritik-diri bagi tradisi teori kritis, penolakan terhadap filsafat yang berdiri di atas pijakan rasio yang berpusat pada subyek, dan pembelaan yang menggebu-gebu terhadap gagasan non-totalizing dari proyek modernitas. Semua tema ini bermuara pada gagasan Habermas mengenai "kritik radikal atas rasio" yang terkait-erat dengan "kritik referensi-diri". Menurut Habermas, problem "kritik radikal atas rasio" telah merontokkan teori kritis Marx Horkheimer dan Theodor Adorno, dan krisis tersebut memuncak di dalam karya-karya kaum pascastrukturalis, seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida.
Tulisan ini akan berusaha melukiskan persoalan di sekitar teori kritis Horkheimer dan Adorno serta pokok-pokok argumen yang dikembangkan Habermas dalam rangka kritiknya terhadap Derrida, serta bagaimana persilangan antara teori tindakan komunikatif Habermas dan teori dekonstruksi Derrida. Dalam mendiskusikan Derrida dan dekonstruksi, tulisan ini tidak akan membahas titik-tengkar antara Habermas dan Derrida dengan mereduksinya semata pada kekhasan pribadi filsafat keduanya, tapi lebih jauh berusaha mengidentifikasi klaim dasar teoritis dekonstruksi dalam pertentangannya dengan Habermas yang berada dalam argumetasi rasional.
Horkheimer dan Adorno berusaha menampik rasio modernitas yang merupakan anak kandung pencerahan. Upaya yang dilakukan Horkheimer dan Adorno itu, menurut Habermas, terjebak dalam kritik referensi-diri karena keduanya berusaha mengungkapkan dialektika pencerahan tanpa merevitalisasi kapasitas rasio kritis. Bagi Adorno dan Horkheimer, kedigdayaan rasio kritis telah ditelan oleh dominasi karena perluasan rasionalitas instrumental. Pertanyaannya: jika kita telah kehilangan kapasitas rasio kritis, bagaimana kita dapat mengungkap masalah hilangnya kapasitas rasio kritis?
Teori kritis Horkheimer dan Adorno, dalam pengertian performatif, melihat eksistensi rasio direduksi semata pada rasio instrumental atau semata dimengerti dalam kerangka klaim-klaim kekuasaan. Seturut dengan pengertian ini, setiap usaha untuk melawan dominasi rasio instrumental niscaya akan terperangkap dalam kontradiksi. Dalam bahasa Habermas, kontradiksi ini disebut kontradiksi performatif, suatu pernyataan yang membantah dirinya sendiri. Adorno, demikian Habermas, tidak hanya menyadari kontradiksi performatif ini, bahkan dengan inspirasi dari Nietzsche, Adorno secara lantang menyerah dan menemui jalan buntu. Sikap Adorno yang pasrah dianggap Habermas sebagai indikasi gagalnya generasi pertama mazhab Frankfurt dalam mengatasi jalan buntu berhadapan dengan dominasi rasio instrumental.
Berhadapan dengan pertanyaan mengapa Horkheimer dan Adorno menanggalkan teorinya pada posisi yang tanpa jalan keluar, Habermas mengemukakan keterbatasan konsep mereka mengenai rasio. Horkheimer dan Adorno hanya melihat hubungan subyek-obyek dalam kerangka rasio instrumental. Berpangkal tolak dari kenyataan ini, Habermas menyatakan perlunya memperluas konsep mengenai rasio, yaitu rasio yang memusatkan perhatiannya pada relasi intersubyektif (subyek-subyek) dalam teori tindakan rasio komunikatif.
Habermas melihat Horkheimer dan Adorno tidak memiliki konsep rasio komunikatif dan cenderung mereduksi relasi intersubyektf yang memuat komitmen praktis-etis ke dalam relasi subyek-obyek yang termuat di dalamnya relasi instrumental; orientasi pada kekuasaan. Pemikiran Horkheimer dan Adorno tidak dapat diterapkan dalam rangka mendiagnosis masyarakat Barat modern, apabila secara berlebihan melihat masyarakat dari sudut rasionalitas instrumental. Jika kita menelusuri garis argumentasi ini, kita dapat menyatakan bahwa Horkheimer dan Adorno tidak memiliki perangkat konseptual untuk menghindari paradoks kritik referensi-diri yang menggiring keduanya dalam kontradiksi performatif.
Gagasan Habermas mengenai tindakan komunikatif mengandaikan kapabilitas perbincangan dan tindakan di dalam orbit argumentasi rasional. Pada titik inilah sebenarnya Habermas akan menjumpai dilema baru, yaitu berhadapan dengan fakta bahwa argumentasi rasional hanya salah satu dari sekian ragam modus perbincangan. Bahasa puitik menjadi eksemplar dari bentuk komunikasi yang tak berpijak di atas aras argumentasi. Sebagaimana diungkapkan Habermas, argumentasi meliputi baik eksplisit maupun implisit pengakuan akan ruang validitas dan kekuatan argumen yang lebih baik sebagai hasil akhir dari situasi perbincangan bebas paksaan. Dan jika gagasan Habermas mengenai kontradiksi performatif ini integral dengan praktek argumentasi rasional, berarti praktek ini hanya terbatas pada norma-norma praktek diskursif. Habermas akan menemui kesulitan pada mereka yang meninggalkan upaya perbincangan argumentatif.
Hal itu penting untuk dikemukakan ketika berhadapan dengan fakta bahwa filsuf seperti Heidegger menyatakan kegelisahannya dengan filsafat yang selalu terjebak oleh pemikiran diskursif, ia hendak meloloskan diri dari kekuatan argumen dengan menempatkan eksistensi kompetensi kognitif di seberang "refleksi diri", di seberang pemikiran diskursif. Sebagaimana juga Nietzsche yang masih membayangkan sebuah upaya berfilsafat dengan model kesenian, bagi Heidegger "there is a thinking more rigorous than the conceptual".
"Refleksi diri" perlu dipahami dalam wawasan Idealisme Jerman. Refleksi diri mengacu pada Fichte, filsuf Jerman yang sezaman dengan Hegel. Fichte menyatakan bahwa rasio mengandung dua segi, yaitu kehendak dan kesadaran. Gagasan ini lebih jelas dalam pandangan Hegel, bahwa rasio kita memiliki kesanggupan untuk mengatasi kendala-kendala yang merintangi kemampuan realisasi diri untuk mencapai otonomi dan tanggung jawab. Hegel memakai suatu ilustrasi yang masyhur, yaitu dialektika tuan dan budak. Realisasi diri merupakan kosakata yang setara dengan "kritik" atau apa yang di dalam tradisi mazhab Frankfurt disebut sebagai "rasio kritis". Teori tindakan komunikatif Habermas merupakan suatu upaya untuk menyelamatkan proyek modernitas melawan tantangan dari para Nietzschean dan Heideggerian. Dengan alasan inilah, munculnya kembali tema-tema Nietzschean dan Heideggerian dalam diskursus filsafat kontemporer Prancis menjadi medan pengujian proyek filosofis yang dibangun Habermas, dan salah satunya perselisihan dengan Jacques Derrida, seorang filsuf Yahudi Prancis kontemporer.
Marie Fleming, salah seorang pengritik Habermas, menyatakan bahwa Habermas menempatkan Foucault sebagai pengikut Nietzsche dan Derrida merupakan penerus Heidegger. Bagi Fleming, Habermas menganggap Derrida gagal untuk mencari jalan keluar dari filsafat yang berpusat pada subyek, karena Derrida mengganti subjektivitas transendental dengan Urschrift atau tulisan primordial (Archewritting)--suatu tulisan primordial yang menghasilkan struktur tanpa subyek. Derrida membayangkan adanya sistem penanda-penanda imaterial yang menjadi basis bahasa. Tulisan adalah sebentuk kenyataan yang dapat ditafsirkan sampai tak terhingga, lepas dari konteks kejadian, penulis, dan pembacanya.
Gambaran Habermas mengenai proyek filsafat Derrida sesungguhnya masih dihantui oleh kecemasannya mengenai kritik radikal rasio dan secara tidak adil melihat bagaimana pokok-pokok penting yang dikemukakan Derrida ketika membaca fenomenologi Husserl, yaitu "keterbacaan" adalah pengandaian dari seluruh tindakan intensional. Derrida meradikalkan Husserl yang berusaha membela adanya kesadaran murni, ego transendental, dan menghindari kemungkinan intersubyektivitas. Husserl membedakan tanda sebagai sign dan signal, yang pertama memiliki acuan pada obyek, misalnya proposisi, sedangkan yang kedua mengacu pada pengalaman tertentu, misalnya mimik muka. Husserl menganggap bahwa komunikasi merupakan pertautan antara sign dan signal. Identifikasi makna dalam percakapan dicapai lewat kepastian intuitif subjek transendental dan bukan melalui intersubjektivitas.
Bagaimanapun, demikian Fleming, klaim bahwa Derrida terjebak pada subjektivitas filsafat modern tak menjadikan posisi argumen Habermas lebih kuat berhadapan dengan proyek filsafat Derrida ketimbang apa yang ia lakukan terhadap Foucault. Sebab, tidak sebagaimana Foucault, Derrida telah meninggalkan upaya filsafat untuk terus argumentatif dan rasional. Habermas lebih jauh menyatakan bahwa Derrida--tidak sebagaimana Heidegger--tidak memberi status khusus terhadap Andenken. Dan dalam esei kedua mengenai Derrida dalam The Philosophical Discourse of Modernity, Habermas berusaha mengungkap dasar penolakan Derrida terhadap norma-norma argumentasi. Sayangnya, demikian Fleming, inilah kekeliruan Habermas, yaitu melihat Derrida dari uraian-uraian para penulis yang mendukungnya dan rekonstruksinya terhadap argumen-argumen Derrida sangat dipengaruhi oleh teks-teks yang ditulis oleh orang lain. Habermas berusaha membela prosedur argumentatif rasional dengan menyatakan Derrida tidak termasuk dalam barisan para filsuf yang mencintai argumentasi dalam rangka proyek filsafatnya.
Konklusi paling umum yang dapat ditarik Fleming mengenai penilaian Habermas terhadap Derrida adalah anggapan mengenai Derrida sebagai penerus Heidegger, yang berimplikasi pada asumsi bahwa Derrida tak dapat disangkal menggunakan gaya yang tak lazim dalam berfilsafat, yaitu menghindari upaya argumentatif dalam membangun proyek filsafatnya. Dekonstruksi Derrida juga didasarkan pada pengandaian akan pembalikan primat logika terhadap retorika. Pembalikan ini, menurut Habermas, adalah satu bentuk penolakan terhadap fungsi filsafat yang memiliki kapasitas sebagai pemecah masalah yang diandaikan berlangsung melalui argumentasi rasional.
Bahkan lebih jauh, Derrida dengan sengaja mengawetkan pernyataan-pernyataan paradoks, yaitu setiap interpretasi tak dapat dihindari sebagai kekeliruan interpretasi, dan segala upaya memahami sebagai kesalahpahaman. Kenyataan ini juga yang memungkinkan Derrida menampik dakwaan kontradiksi performatif, karena--sebagaimana diungkapkan diatas--kontradiksi demikian menghajatkan derajat tertentu komitmen pada praktek-praktek argumentatif. Perbincangan mengenai kontradiksi berlangsung apabila syarat-syarat konsistensi terpenuhi. Ihktiar Derrida mengembalikan bahasa puitik ke dalam filsafat sesungguhnya mematahkan supremasi logika atas retorika, sehingga apa yang dikehendaki Habermas, yaitu konsistensi berdasarkan primat logika atas retorika, kehilangan otoritasnya dalam menilai karya-karya yang ditulis Derrida. Strategi yang dijalankan Habermas dalam upayanya melawan kaum pascamodernis, yakni dengan mengidentifikasi pembalikan, tanpa sadar menyokong filsafat yang berpusat pada subyek, dan kemungkinan kontradiksi performatif.
Apakah Derrida meninggalkan argumentasi rasional?
Dekonstruksi--sebagaimana dipraktekkan Derrida--adalah komitmen yang mengakui "The ethics of discussion....the rule of academy, the university, and of publication". Derrida menolak dengan tegas bahwa dekonstruksi disejajarkan dengan kritik gaya penulisan atau primat retorika atas logika, bahkan menolak pemikiran yang menyatakan bahwa setiap interpretasi adalah tak dapat dihindari sebagai kekeliruan interpretasi, dan Derrida menyatakan dirinya bagian dari para filsuf yang mencintai argumentasi.
Pada bagian lain, Habermas mengakui pentingnya perhatian dekonstruksionis mengenai differance. Dengan differance tidak dilihat sebagai jalan keluar dari filsafat yang berpusat pada subyek, Derrida memfasilitasi sebuah proses dekonstruksi atau destabilisasi yang masih terkait dengan argumentasi. Pertanyaannya kemudian, mengapa Habermas memegang klaim tersebut dan apa implikasinya bagi teori tindakan komunikasi Habermas? Sepertinya Habermas khawatir terhadap non-identitas atau differance atau permainan yang tak dapat dielakkan akan merasuki norma-norma inteligibilitas atau struktur rasionalitas. Derrida bermaksud mendorong secara kuat pengunduran pemikiran filsafat. Dalam bukunya yang berjudul After Word: Toward an Ethic of Discussion, Derrida mengatakan: "What has always interested me the most. What has always seemed to me the most rigorous...the strictest possible determination of the figures of play, of oscillation, of undecidability, which is to say, of the differancial conditions of determinable history, etc".
Dekonstruksi, sebagaimana genealogi, akan menyeret kita pada persoalan bahwa problem "kehendak" selalu terungkap melalui diskursus, serta akan mempersoalkan gagasan Habermas mengenai "konsensus bebas paksaan", bahkan implikasinya adalah menempatkan gagasan Habermas mengenai paradigma komunikasi menjadi tanda tanya besar. Sekurang-kurangnya inilah titik perhatian Habermas; pandangan bahwa instabilitas inhern dalam struktur rasionalitas akan menjebaknya dalam suatu kesulitan yang tak mudah untuk diatasi. Dan jika masih ada ruang terbuka untuk Habermas, maka ruang itu adalah diskusi mengenai historisitas relasi kuasa yang turut menentukan praktek-praktek rasionalitas.
Kita dapat menganalisis soal itu dari dua sudut yang berbeda. Pertama, norma-norma inteligibilitas memang bersifat histories-kultural sebagai implikasinya adalah norma-norma tersebut instabil. Tetapi struktur rasional tetap bersifat formal dan prosedural. Derrida memang hendak memperlihatkan instabilitas norma-norma inteligibilitas dalam arti bersifat historis kultular dan Derrida tidak memusatkan perhatiannya terhadap aspek yang ingin diselamatkan Habermas, yaitu usaha untuk terus tanpa henti memeriksa struktur rasionalitas. Di sisi lain, dalam rangka dekonstruksi, Derrida telah menanggalkan distingsi dogmatis antara yang formal dan yang substantif. Kedua, pun seandainya kita sepakat bahwa struktur rasionalitas tak dapat disejajarkan dengan norma-norma inteligibilitas yang bersifat historis-kultural, kita masih dapat menyatakan bahwa struktur rasionalitas bersifat stabil. Stabilitas itu tak dapat dijelaskan dari pandangan mengenai para peserta diskusi dalam modernitas; bahkan dari pandangan Habermas mengenai struktur rasionalitas yang stabil, baku, niscaya dan tak terelakkan.
Persoalan yang perlu dipertimbangkan lebih jauh ialah meskipun dekonstruksi tidak meninggalkan argumentasi rasional, Habermas masih memiliki peluang untuk mengungkapkan kontradiksi performatif, sebagai contoh, pernyataan Derrida bahwa dekonstruksi ditujukan pada konvensi mengenai teori, sains, dan filsafat. Derrida sebenarnya ingin mengemukakan bahwa dekonstruksi adalah sejenis penolakan terhadap konvensi mengenai teori, sains, dan filsafat serta argumentasi rasional yang menyertainya, semacam upaya menelanjangi aturan main yang mengikuti teori, sains, dan filsafat untuk mendapatkan celah bagi usaha destabilisasi. Jika memang Derrida tidak sungguh-sungguh menolak praktek-praktek argumentatif, mungkin Derrida hanya hendak mendevaluasinya. Devaluasi ini tampak jelas atas nama rasio yang tak dapat di reduksi semata-mata pada rasionalitas instrumental, yang bersifat afirmatif, tetapi pada wilayah-wilayah dekonstruksi: otherness, keragaman dan perbedaan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bukankah dekonstruksi mengulangi kegagalan Teori Kritis generasi pertama yang berusaha mengungkapkan cita-cita rasio?
Kritik Habermas terhadap Derrida menjadi problematik, menempatkan Derrida sebagai penerus Heidegger daripada Nietzsche. Derrida tak dapat dihubungkan dengan salah satu dari dua alternatif yang disodorkan oleh Habermas: konsep rasionalitas instrumental yang diterapkan pada relasi subyek-obyek, atau memperluas konsep rasio yang membutuhkan teoritisasi struktur rasionalitas sebagai sesuatu yang stabil, niscaya, dan tak terhindarkan. Alternatif ini tidak adekuat, karena dekonstruksi tak memiliki klaim dasar teoritik. Adalah mungkin menguji stabilitas struktur rasionalitas di dalam dan melalui argumentasi rasional, dan kita memerlukan sebuah cara dalam mengembangkan gagasan mengenai rasio yang merefleksikan pengertian tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar