Senin, 29 Desember 2008

Notion

Heart of hearts ....
God knows how long these memories forgotten.
As dawn approached, the dew moistened the leaves of grain waved to greet the morning sun, refreshing.

slowly I approached my window and I saw there just a flower blooming jasmine fragrant meeting room, my room ...
I'm lost in thought, still remember what happened last night.
when he was there for me, with me here. the seconds in length through the night,
and now all is gone, and all was gone. just disappeared and not a re ...

no words came out .. no longer hope that the wanderer wandering soul,
the memories are now kept neatly in the bosom to start the day who was left in my life.
I tried to take it all to accompany my steps along the trail that nearly erased by the burning dust.
I kept walked ..
and I follow wherever he took me ...
a direction that has not been to me through ...

Back haunting voice softly calling my name ...
wave your hands about to grab me in your warm embrace.
I was stunned eyes rip the sky
why quickly passed
why all went away without leave little hope for the pan back up that has been lost
and now I live in solitude of heart
there is none to accompany the endless lonely lament

Give you heartache
Missing all the dreams
He let you go
Sorry I didn't mean
Now I realize
You're not mine anymore
Do not force me to remain here
Her tears were not able to make my back
In the quiet of my day ... one point of light emanating from the gap the struggling soul ....
Try to greet my loneliness ...
I welcome the rigger to her breathing softly whispered the word desperate soul who took me to fly there .. ...
nirvana for repacking heart of hearts deepest dreams ....
Flutter of wings always sustain every step ..
try to wash my sweat and tired

Describe images of my dreams ... the false ....
I did not realize ....
The wind hit me ...
do not think you find affordable ...
I woke up ..
Hear the inner voice ..

Be free from the wind and shadows
Find all answered
This breath can not express the meaning
This locked tightly closed mouth
Finger dancing ...
pursue a tone expressed a sense that there
Vibrating strings sounded
Heart talk ... ...
Pursued a broken heart
Flushed rover ...
As the prayer ... ..
Filled with love
But saying all came to strengthen ourselves

Sometime


Angsa Putih

Melangkah jauh kembara hati
Sepiku rasakan sendiri…
Di padang tandus tak kunjung henti
Kerontang jiwaku menanti
Telaga bening dan angsa putih
Sendiri di situ bermain
Ijinkan aku ada di situ
Beriring dengan mu
Bermain denganmu
Bersatu denganmu
Angsa putihku…
Janganlah jauh..
Kubawakan mu
Kujagakan mu
Bening di telaga damai…
Biarlah bersamamu biarlah bersamaku
Abadi….
Aku ingin slalu di situ
Ingin slalu dengann mu
Bersama….manis…
Angsa putihku…..

terbersit tanya di hati yang gundah...masihkah ada ruang untukku...
di sana...menemani harimu
tuk bersama bermain dalam bening telaga jiwa...?
aku hanya berharap semoga semua menjadi abadi
dalam kenangan jiwa yang terus berkelana mencari arti...
dan tak kan pernah berhenti
untuk memahami
semua makna asa yang tersisa...

Rabu, 24 September 2008

KEHORMATAN SEBAGAI NILAI DAN HAK ASASI MANUSIA

KEHORMATAN SEBAGAI NILAI DAN HAK ASASI MANUSIA

Pengantar
Persoalan kehormatan menyangkut langsung realitas hidup manusia sehari-hari. Dalam realitas sosial hidup bermasyarakat, persoalan kehormatan menjadi suatu persoalan yang sangat sensitif karena menyangkut harga diri manusia itu sendiri. Siapa pun tidak pernah menginginkan harga dirinya diinjak-injak. Ia tak ingin martabatnya direndahkan. Ia bahkan berusaha dengan berbagai cara untuk merebut, mempertahankan harga diri, dan memilikinya secara utuh. Paradigma inilah yang kita lihat dalam realitas hidup bermasyarakat dewasa ini. Misalnya dalam percaturan dunia politik, partai-partai bersaing dengan manampilkan track recordnya, berusaha mengalihkan publik kepada cita-cita partainya, yang sebenarnya hanya dengan satu tujuan yaitu supaya partainya menang dalam pemilu dan mengalahkan para oposisinya. Dalam dunia bisnis, seorang meneger perusahaan akan berupaya semaksimal mungkin agar ia dapat menjalin relasi yang lebih baik dengan para mitra bisnisnya dan kedudukannya bertahan sehingga dengan demikian nama baiknya terjaga. Di pengadilan, seorang hakim akan terhindar dari hujatan apa bila ia memperhatikan norma-norma hukum dengan baik dalam mengambil keputusan, dan keputusannya itu adil. Di sekolah, seorang kepala sekolah akan merasa bangga bila setiap tahun para siswanya lulus dalam ujian, sebab ini dapat meningkatkan mutu sekolahnya. Dalam keluarga, sang ayah akan bangga bila anak-anaknya berprestasi. Dari beberapa contoh tadi dapatlah dikatakan bahwa setiap aktivitas hidup manusia berhubungan dengan kehormatan dan paling sedikit setiap tindakan itu memiliki tujuan demi kehormatan, demi nama baik. Jadi kehormatan itu diperoleh bila ia melakukan hal-hal yang normal, wajar, yang dapat diterima dalam hidup bermasyarakat. Akan tetapi bila ia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai dan norma masyarakat, maka saat itu juga ia kehilangan kehormatan, nama baiknya tercemar. Hal kedua terakhir inilah sebenarnya yang harus mendapat perhatian lebih sebab nilai sebuah kehormatan tidak bisa diukur dengan takaran, misalnya harta dana kekayaan, prestasi, beribadah. Kehormatan itu adalah nilai yang sudah dimiliki oleh setiap manusia sejak awal hidupnya. Oleh karena itulah tak seorangpun berhak atas diri orang lain, sebab kehormatan adalah menyangkut hidup itu sendiri. Kehormatan adalah hak asasi setiap orang. Persoalan inilah yang menjadi pokok pemabahasan dalam tulisan ini yang kemudian akan ditinjau dari sudut moral kristiani.

1. Apa Itu Kehormatan?
1.1. Pandangan Umum Tentang Kehormatan

Apa itu kehormatan? Pertanyaan ini langsung menyentuh hidup manusia secara kongkret. Kehormatan merupakan sutau nilai lebih yang dimiliki oleh setiap orang, akan tetapi bukan berarti bahwa setiap orang memiliki satu nilai lebih tinggi dari pada yang lain. Nilai lebih yang dimaksudkan adalah bagaimana seseorang itu beroleh: pengharggaan Nobel, karena berhasil dalam memberikan sumbangsih bagi dunia, misalnya dalam bidang kedokteran, kemanusiaan, ilmu pengetahuan; kedudukan dalam masyarakat; naik pangkat, karena telah menyelesaikan misi penumpasan pemberontakan GAM. Nilai lebih yang dimaksudkan adalah bagaimana cara kerja, atau etos kerjanya sehingga ia dianggap layak mendapat predikat tersebut. Kehormatan adalah menyangkut nilai hidup manusia itu sendiri yakni harkat dan martabat hidup manusia. Kehormatan itu menyangkut harga diri seseorang. Namun kehormatan sering disalahartikan, dimana dengan ‘kehormatan’ yang dimilikinya, seseorang dapat berkuasa atas diri orang lain. Ia manganggap dirinya lebih dari orang lain. Di sinilah sering terjadi penindasan atas hak dan martabat seseorang sebagai sesama manusia. Kehormatan di sini lebih di artikan sebagai prestise, gengsi, predikat, kekuasaan, yang dapat menunjukkan suatu kedudukan yang lebih tinggi dari orang lain.

Dengan kata lain, kehormatan dapat mengandung dua pengertian. Pengertian pertama, kehormatan itu adalah sebagai nilai hidup manusia itu sendiri. Pegertian kedua, kehormatan yang secara harafiah ditujukan pada tingkat prestise, gengsi yang lebih mengarah pada pengangkatan harga diri seseorang. Pengertian kedua inilah yang dominan terasa dalam relasi sosial masyarakat kita.

1.2. Arti Kehormatan Ditinjau dari Sudut Agama-agama
Seperti telah dikatakan bahwa, persoalan kehormatan adalam persoalah yang langsung bersentuhan dengan realitas hidup manusia. Bagaimana kehormatan itu dipahami dari sudut agama-agama, misalnya dalam Hindu, Islam, Katolik. Dalam Hindu, dengan menjalankan ajaran Hinduisme seperti menempuh delapan jalan kebenaran, mencapai Sinyasin, dan akhirnya Moksa. Dalam Islam, misalnya kita dapat melihat dari bagaimana kaum muslimat bertekat untuk jihad dalam menumpas kajahatan, sebab ketika seseorang berjihad dan gugur, maka ia akan mengalami apa yang disebut mati Sya’id, suci, dan terhormat. Dalam Gereja Katolik, kehormatan pertama-tama dipahami sebagai kemuliaan (doxa), keagungan Tuhan. Tuhan sendiri menganugerahkan kehormatan kepada manusia.

Dari ketiga paham di atas, pengertian kehormatan lebih ditujukan pada sisi spiritualitas hidup manusia. Akan tetapi bukan berarti bahwa pengertian itu berhenti pada tahap rohani saja, melainkan bagaimana pengertian dalam arti rohani ini dapat menjadi dasar dalam segala tindakan hidup manusia, sehingga kehormatan itu benar-benar menjadi nilai atau keutamaan dalam hidup manusia. Dengan kata lain kehormatan bukan melulu berurusan dengan apa yang duniawi, melainkan juga menyangkut soal spiritual, yang rohani. Jadi antara keduanya harus ada keseimbangan.

2. Gejala Sosial Masyarakat yang Mempengaruhi Nilai Kehormatan
2.1. Prestigo atau Gengsi

Secara menyeluruh, paham kehormatan berurusan dengan bidang moral dan sosial. Akan tetapi secara perlahan nilai kehormatan dari sisi moral secara perlahan luntuk dan bergeser. Pergerseran nilai kehormatan lebih terasa pada sisi sosial. Dalam sisi sosial ini, sangat kelihatan apa yang dinamakan dengan prestise (prestigo) atau gengsi. Kehormatan ditafsirkan sebagai gengsi. Dalam artian ini, kehormatan lebih menyangkut soal harta, kekayaan, yang dapat secara langsung mengkondisikan rasa gengsi dalam diri seseorang. Dalam hal ini kehormatan sering dikaitkan dengan kekayaan, sebab dengan kekayaan yang dimilikinya seseorang berada level yang lebih tinggi dari orang lain dan dengan demikian nama baiknya juga menjadi predikat yang harus dipertahankan. Prestise atau gengsi dianggap sebagai nilai dari kehormatan karena dengan memiliki unsur-unsur di dalamnya seperti, harta, kedudukan, ia memiliki pengaruh dalam relasi sosial masyarakat.

2.2. Tindakan Balas Dendam
Gejala sosial dalam masyarakat yang dapat mempengaruhi nilai kehormatan adalah tindakan re-aktif atas perlakuan ketidak adilan dalam hubungannya dengan penghargan hak martabatnya dalam realitas sosial. Tindakan balas dendam berarti tindakan menuntut kembali haknya yang telah diambil atau pemulihan atas nama baiknya yang tercemar. Tindakan balas dendam lebih mengarah pada pemulihan harga diri. Ada dua kemungkinan yang diperoleh. Pertama, nama baik akan dipulihkan dan secara otomatis labelitas buruk yang dikenakan masyarakan pada pribadi tersebut hilang. Ini berarti ia diterima dan harga dirinya diakui secara penuh. Kedua, konsekuensi yang harus diterima adalah pengucilan, karena tindakan balas dendam belum tentu bisa memperbaiki citra buruk yang sudah tertera bagi dirinya. Sedangkan sarana yang digunakan jauh berada pada batas kewajaran menurut tata nilai dan norma dalam masyarakan, misalnya dengan membunuh. Dengan kata lain tindakan balas dendam justru dapat membawa seseorang pada kegagalan dalam arti menjalin relasi sosial bermasyarakat.

2.3. Tindakan Bunuh Diri
Salah satu gejala sosial masyarakat yang mempengaruhi nilai kehormatan yang dianggap sentimentil adalah tindakan bunuh diri. Tindakan bunuh diri pertama-tama dilakukan oleh si korban untuk menghilangkan rasa malu. Jelas di sini yang dimaksudkan adalah pemulihan nama baik. Akan tetapi tindakan ini sangat kontras dengan norma sosial dalam masyarakat kita. Oleh karena itu, baik dari segi moral maupun sosial perbuatan ini tidak bisa dibenarkan, sebab dianggap melawan Allah sebagai pemberi hidup, sesama, dan kodrat dirinya sebagai manusia. Apapun sarana dan bagaima cara pelaksanaannya, tidakan bunuh diri tidak akan bisa memulihkan nama baik seseorang.

3. Paham Kehormatan dalam Moralitas Kristiani
3.1. Tuntutan untuk Menghormati Sesama Manusia

Kehormatan, sebagaimana diartikan sebagai nilai hidup manusia itu sendiri, merupakan suatu tugas yang diemban dan harus dipertanggungjawabkan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kehormatan itu bukan semata-mata nilai yang harus dikejar, diraih, melainkan juga suatu nilai yang harus direlasikan dengan sesama. Kehormatan itu berarti suatu tuntutan untuk menghormati sesama manusia. Sikap menghormati sesama adalah dengan menghormati nama baik seseorang. Sikap menghormati nama baik seseorang yang dimaksudkan adalah melarang setiap sikap dan perkataan yang dapat merusakkan nama baik seseorang secara tidak adil, misalnya dengan memberikan suatu penilaian yang lancang, fitnah, umpatan. Di sini paham kehormatan lebih dihubungkan dengan suatu perbuatan benar atau megatakan yang benar, melakukan kebenaran. Dengan kata lain kehormatan hanya akan diperoleh dengan melakukan tindakan kebenaran. Maka ketika ia melakukan pelanggaran atas kewajiban ini maka ia pun akan kehilangan kehormatan yang sebetulnya telah dipersiapkan untuk dibagikan kepada orang lain. Akan tetapi ketika ia melakukan apa yang dibenarkan baik secara moral maupun sosial, saat itu juga ia memperoleh kehormatan yang sama seperti yang diperoleh oleh orang lain tersebut.

3.2. Kehormatan sebagai Nilai dan Hak Asasi Manusia
“Fitnah dan umpatan merusak nama baik dan kehormatan sesama. Padahal kehormatan adalah bukti sosial martabat seorang manusia, dan setiap orang mempunyai hak kodrati atas kehormatan namanya, atas nama baiknya, dan atas penghargaan. Fitnah dan umpatan, dengan demikian, merusak kebajikan-kebajikan keadilan dan cinta kasih”. (KGK, art. 2479). Dikatakan bahwa setiap orang mempunyai hak kodrati atas kehormatan namanya, nama baiknya, dan atas penghargaan. Kehormatan bukan hanya sekedar sebagai persoalah diraik, didapat, dipelihara, diperjuangkan, melainkan juga bagaimana setiap orang sadar akan tugasnya untuk menghargai kehoratan itu yang adalah hak kodrati yang dimiliki oleh setip orang. Jadi kehormatan itu buka ada karena melakukan tindakan-tindakan baik atau dipuji, melainkan benar-benar sudah ada dalam tiap pribadi dan ini tidak boleh dirusakkan demi alasan apa pun. Jadi pada akhirnya setiap orang berhak atas kehormatannya dan berkewajiban memberikan pernghormatan kepada sesama.

Penutup
Kehormatan bukanlan hanya soal memperoleh gelar, kedudukan, kekayaan, nama baik, atau pun restise atau gengsi. Kehormatan lebih menyangkut nilai hidup manusia itu sendiri. Kehormatan menyangkut nilai yang sangat mendasar bagi hidup manusia terutama dalam menjalin relasi sosial dalam hidup bermasyarakat.




KEPUSTAKAAN

Ardinoto Nugroho, MA, Paradigma Sosial Masyarakat Indonesia, Mata Bangsa, Yogyakarta, 2002
Guritno Gerard, Manusia dan Agama-Agama, Studi Relasi Sosial Antar Umat Beragama, Indonesiaterra, Magelang, 2003
KWI, Katekismus Gereja Katolik, Arnoldus, Ende, 1995


Selasa, 23 September 2008

KITA DAN SASTRA DUNIA

KITA DAN SASTRA DUNIA

I. Karya sastra adalah hasil kerja sastrawan, tidak begitu saja jatuh dari langit. Sastrawan adalah manusia, anggota masyarakat yang menyadari perlunya berkomunikasi dengan manusia lain; dengan demikian sastra memerlukan pembaca. Di dalamnya, sastrawan berusaha menciptakan dunia rekaan berdasarkan kemampuan daya khayalnya. Dunia rekaan itu tentu saja harus bisa dikenal pembaca, sebab jika tidak, komunikasi tidak akan berlangsung. Pembaca, seperti halnya sastrawan, adalah juga manusia, anggota masyarakat yang tentunya juga menyadari pentingnya berkomunikasi. Di dalam proses komunikasi semacam itu sastrawan adalah pengirim pesan, sedangkan pembaca adalah penerima pesan. Karya sastra adalah pesan itu, yakni dunia rekaan yang isinya harus dikenal baik oleh sastrawan dan masih bisa dikenal pembaca agar komunikasi bisa berlangsung.

Dalam proses tersebut tampaknya pembaca adalah penerima yang pasif sedangkan sastrawan pengirim pesan yang aktif; kenyataannya tidaklah demikian. Karya sastra modern, yang tertulis, pada dasarnya merupakan susunan huruf, kata, kalimat, dan alinea yang bisa menjelma dunia hanya jika pembaca secara aktif menafsirkannya; ia menjadi "sastra" dan menjelma sebuah dunia hanya jika diciptakan kembali oleh pembaca. Jika tidak, ia mungkin merupakan kertas bertulisan yang bisa saja menjadi bungkus kacang. Ada atau tidaknya karya sastra sama sekali bergantung pada pembaca yang menjadi juru tafsir, dan dalam hal ini tentu saja sastrawan bisa juga menjadi pembaca karyanya sendiri. Dalam proses menafsirkan itulah sebenarnya terjadi komunikasi langsung antara karya sastra dan pembaca, atau komunikasi tak langsung antara sastrawan dan pembaca.

Sebagai manusia, sastrawan tidak bisa melepaskan diri dari dunia tempatnya berpijak. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari gagasan, tindak-tanduk, dan benda-benda yakni kebudayaan yang dihasilkan manusia; ia pun ikut menghasilkan itu semua. Jadi, sastrawan adalah bagian kebudayaan dan sekaligus ikut menghasilkan kebudayaan. Tentu saja karya yang diciptakannya, yakni sastra, adalah dunia yang tak bisa dipisahkan dari kebudayaannya. Sastra adalah dunia rekaan yang berpijak pada gagasan, tata nilai, dan kaidah yang telah membentuk dan sekaligus dibentuk sastrawan sebagai anggota masyarakat. Dalam hal ini, "berpijak" tentunya tidak berarti "sama dan sebangun"; sastra adalah tanggapan evaluatif terhadap berbagai hal yang berlangsung di dunia nyata ini.

Dalam menilai, sastrawan menyodorkan pilihan-pilihan. Itu sebabnya juga sering dikatakan bahwa dunia rekaan adalah alternatif bagi kehidupan kita sehari-hari. Orang membaca karya sastra karena ia tidak ingin berada di dunia nyata yang satu-satunya ini, dan berusaha melarikan diri ke dunia yang berbeda, yang diciptakan sastrawan. Ini tidak berarti bahwa ia berpindah ke dunia yang lebih nyaman; bisa saja dunia alternatif itu malah "menyiksa"-nya. Bisa saja orang merasa sangat berbahagia di dunia sehari-harinya, namun masuk juga ia ke dunia sastra yang mungkin malah membuatnya menangis, geram, atau penasaran. Orang mendapatkan juga pengalaman di dunia nyata ini, namun dunia sastra, yang diciptakan oleh sastrawan entah sejak kapan, memberinya lebih banyak lagi pilihan pengalaman. Dengan demikian, hakikat keberadaan sastra adalah niat baik pembaca untuk menerima pengalaman yang ditawarkan sastrawan. Dalam zaman modern ini, dunia alternatif umumnya dikemas dalam bentuk buku. Dengan demikian sastra adalah dunia yang portable, bisa dijinjing ke mana pun dan siap dimasuki sembarang waktu dan tempat. Tidak usah heran jika kita pernah menyaksikan orang membaca novel di bus, pesawat terbang, kereta api, dapur, toilet, atau kamar belajar. Dunia jinjingan itu berisi kebudayaan, yakni gagasan, nilai-nilai, dan kaidah-kaidah yang diciptakan kembali dan sekaligus dievaluasi oleh sastrawan. Tentu saja, seperti halnya benda budaya lain, ada berbagai-bagai jenis sastra. Ada sastra yang menawarkan dunia yang sudah begitu kita kenal sehari-hari dan mengajak kita untuk tetap mencintainya dan sama sekali tidak beranjak darinya; ada yang menantang kita untuk mempertimbangkan kembali segala sesuatu yang selama ini kita yakini dan menggoda kita untuk merombaknya. Itu semua merupakan cerminan kebudayaan yang telah melahirkannya.

II. Tentu karena kita membutuhkannya maka sastra telah dihasilkan entah sejak kapan. Jika kita mengambil cara pandang ini begitu saja, seolah-olah tidak ada gunanya memperbincangkan arah dan nasib sastra kita di masa datang; apa pun yang terjadi, sastra di mana pun pasti akan dihasilkan. Yang perlu kita bicarakan sekarang adalah mengapa sastra harus ada dan untuk apa pula benda budaya itu ada. Meskipun mungkin saja menjadi terharu atau bahkan menangis ketika membaca karya sastra, kita sepenuhnya menyadari bahwa yang kita hadapi hanyalah gambaran dunia rekaan yang tidak akan mampu menyelesaikan kemelut yang terjadi dalam hidup kita. Ia tidak nyata, sedangkan kesulitan hidup sehari-hari kita ini benar-benar nyata.

Tetapi justru karena sifat rekaannya itulah sastra kita butuhkan. Kita tidak mungkin tinggal terus-menerus di dunia nyata. Agar hidup ini bisa terlaksana dan berlangsung dengan sebaik-baiknya, kita perlu mengadakan perjalanan ulang-alik dari dunia nyata ke dunia rekaan. Setiap harinya kita, yang hidup sebagai anggota masyarakat modern ini, melakukan itu: nonton telenovela atau film seri di televisi; membuat dan mendengarkan folklore, yakni cerita burung mengenai tetangga, kenalan, atau saudara; atau membaca cerita bersambung atau cerita pendek yang dimuat di berbagai media massa. Dunia rekaan ternyata merupakan pasangan dunia nyata. Jika di dunia nyata ini gerak-gerik kita ada rambu-rambunya, ada batas-batas yang sebenarnya kita ciptakan sendiri demi keinginan bermasyarakat, maka di dunia rekaan kita mendapatkan keleluasaan yang memungkinkan kita melewati batas-batas itu.

Di dalam dunia nyata, apa yang terjadi tidak akan bisa diulang lagi. Menurut teori mimesis, di dalam dunia rekaan itu apa yang terjadi di dunia nyata bisa "diulang" lagi; dan dunia "ulangan" itu bisa terus-menerus diulang-ulang setiap kali kita membacanya. Dengan demikian ia merupakan semacam cermin dari segala sesuatu yang menimpa diri kita ini; menghasilkan sastra berarti menyaksikan diri kita sendiri bermain di suatu dunia rekaan. Karena cermin itu meniru apa yang dicerminkannya, maka sastra pada dasarnya dianggap sebagai mimesis. Namun, dalam hal ini mimesis adalah tiruan yang juga memperbaiki kekurangan yang ada pada yang ditiru. Sastra adalah cermin yang istimewa, ia tidak hanya menampilkan diri kita seperti yang ada di dunia nyata, tetapi sekaligus memperbaikinya. Ini berarti sastra juga menampilkan hal yang tidak tampak dalam dunia nyata, hal yang tidak bisa diketahui dalam dunia nyata.

Dengan cara lain bisa dikatakan bahwa sastra merupakan tanggapan evaluatif terhadap kehidupan; sebagai semacam cermin, sastra memantulkan kehidupan setelah menilai dan memperbaikinya. Kita menciptakan sastra sebab membutuhkan citraan rekaan yang bisa mencerminkan hal yang tidak kita ketahui di dunia nyata. Itulah sebabnya, setidaknya menurut Wolfgang Iser,  sastra tidak tergusur oleh perkembangan filsafat sejarah dan teori sosiologi, yang juga merupakan cermin diri kita, sebab sastra pada dasarnya justru mencerminkan yang tidak ada. Sastra menghadirkan yang tidak hadir, mementaskan yang tidak terpentaskan dalam kenyataan sehari-hari. Pertanyaan yang penting adalah, mengapa gerangan kita menciptakan cara pementasan semacam itu, yang telah bersama kita sepanjang sejarah yang kita catat selama ini?

Jika kita mengikuti jalan pikiran Iser, jawaban terhadap pertanyaan itu tentulah bukan sekedar keinginan untuk mengulang-ulang apa yang ada, tetapi kehendak kuat untuk mendapatkan jalan masuk ke sesuatu yang tidak dapat kita ketahui. Kehendak itulah yang menyebabkan sastra tetap akan kita hasilkan dan tidak bisa digantikan oleh bidang lain apa pun. Dan tentunya buku-buku sastra tetap akan ditulis, dicetak, dan disebarluaskan lewat berbagai-bagai saluran.

III. Di zaman ini, kita menjumpai begitu banyak dunia jinjingan yang ditawarkan oleh sastrawan-sastrawan kita sendiri maupun asing. Kalau mau, kita bisa masuk ke dunia Sitti Nurbaya, yang diterbitkan tahun 20-an ciptaan Mh. Rusli, seorang Minang; atau ke dunia Para Priyayi yang diciptakan oleh Umar Kayam, seorang Jawa. Dr. Zhivago karya Boris Pasternak, orang Rusia; Malam karya Eli Wiesel, orang Yahudi; Yang Tergusur karya Sally Morgan, orang aborigin Australia; Tukang Kebun karya Rabindranath Tagore, orang India; Senandung Ombak karya Yukio Mishima, orang Jepang; Nyanyian Lawino karya Okot Bitek, orang Uganda; Tokoh-tokoh Munafik karya Sionil Jose, orang Filipina; Istri untuk Putraku karya Ali Ghalem dari Aljazair; Nyanyian Ombak karya Yukio Mishima dari Jepang; Lelaki Tua dan Laut karya Hemingway dari Amerika; semua itu beberapa contoh saja dari begitu banyak dunia yang mencerminkan kebudayaan, yang berisi pengalaman yang siap kita masuki. Dan jika kita bisa menguasai bahasa asing, ada lebih banyak lagi pilihan untuk kita tentu saja.

Moga-moga saja kita masih ingat, dan bersedia mengakui, bahwa umumnya perkenalan pertama kita dengan beberapa segi kebudayaan Rusia tidak melalui sosiologi tetapi lewat cerita pendek dan drama Anton Chehov; perkenalan pertama kita dengan berbagai nuansa masalah sosial, politik, dan budaya Rusia tidak lewat ceramah ilmiah tetapi lewat buku-buku Nikolay Gogol, Leo Tolstoy, dan Boris Pasternak. Dan anehnya, kesan perkenalan pertama itu tidak mudah hilang; mungkin hal itu antara lain disebabkan kata orang sastra itu memorable, cenderung lekat ke ingatan. Anehnya lagi, karya sastra adalah dunia pengalaman yang bisa dihayati berulang kali, dan setiap kali merupakan pengalaman yang umumnya lebih bernilai, karena kita tentunya sudah menjadi lebih kritis. Kita sepenuhnya tahu bahwa membaca ulang sebuah novel, misalnya, tidak jarang lebih mengasyikkan dibanding membaca novel baru. Novel yang pernah kita baca sewaktu di sekolah menengah tentu memberikan pengalaman yang berbeda dengan ketika kita baca tiga puluh tahun kemudian, ketika kita hampir punya cucu.

Contoh beberapa novel yang saya sebut itu menunjukkan bahwa setidaknya akhir-akhir ini kegiatan menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia terus dilaksanakan dan tampaknya meningkat. Ini membuktikan bahwa sebagai bangsa, kita mempunyai rasa ingin tahu yang kuat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan dan pengalaman bangsa lain. Kita menyadari bahwa dalam zaman komunikasi yang semakin laju ini, tidak ada manfaatnya sama sekali untuk menutup diri dengan hanya mengagumi dan melestarikan kebudayaan dan pengalaman diri sendiri. Untuk bisa bergaul dengan bangsa lain dengan lebih percaya diri, kita perlu mengenal kebudayaan dan pengalamannya. Dan dalam hal ini, sastra adalah semacam jalan pintas.

Saya akan memberikan sekedar contoh. Aljazair adalah sebuah negeri di Afrika Utara yang boleh dikatakan asing bagi kebanyakan kita. Novel Ali Ghalem, Istri untuk Putraku, memberikan gambaran dan uraian yang sangat tajam mengenai beberapa segi kebudayaan dan pengalaman bangsa itu. Lewat novel itu kita bisa mengenal tata cara perkawinan yang sama sekali asing bagi kita. Dalam novel itu juga diungkapkan berbagai masalah sosial dan budaya yang menyangkut masyarakat lapisan bawah; bahkan secara tersirat muncul juga masalah hubungan antara Aljazair dan Perancis, negeri Eropa yang pernah menguasainya. Beberapa adegan dalam novel itu digambarkan begitu tajam sehingga sulit lepas dari ingatan kita, seperti misalnya adegan yang menggambarkan tradisi pemeriksaan keperawanan bagi gadis yang akan nikah. Juga adegan malam pertama pengantin. Dalam karya Ali Ghalem itu kita juga menemukan berbagai segi masalah pendidikan, hak wanita, dan hubungan-hubungan antaranggota keluarga dan antarkeluarga.

Sehabis membaca novel itu, kita merasa seolah-olah tahu sangat banyak mengenai masyarakat suatu negeri yang sebelumnya sama sekali asing. Kita menimbang-nimbang berbagai hal yang sama dan tidak sama dengan dunia dan masyarakat kita sendiri. Kita menjadi lebih kaya. Bahkan tidak jarang kita merasa menjadi orang yang tahu banyak mengenai sosiologi dan psikologi masyarakat dan orang Aljazair, tanpa pernah ikut kuliah kedua ilmu itu. Memang tidak benar jika dikatakan kita telah menjadi pakar sosiologi dan psikologi masyarakat Aljazair hanya dengan membaca sebuah novel, namun tidak keliru jika dikatakan bahwa kita telah memahami dan menghayati beberapa segi dunia pengalaman orang Aljazair, lengkap dengan tanggapan si sastrawan terhadapnya.

Novel Yang Tergusur, yang ditulis oleh Sally Morgan, sastrawan keturunan Aborijin di Australia, memberikan gambaran dan "uraian" yang sangat tajam mengenai perkembangan hubungan antarras dalam sejarah sosial Australia. Tokoh utama novel ini, seorang perempuan muda keturunan Aborijin, baru menyadari identitas dirinya yang selama ini disembunyikan oleh orang tua dan seluruh keluarganya setelah ia dewasa. Orang tuanya ternyata lebih merasa tenteram dan terlindung dengan membohongi dirinya sendiri sebagai keturunan India daripada mengakui sebagai pribumi, orang Aborijin. Dalam upaya mencari akar itulah perempuan muda tersebut mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai hubungan antara pribumi dan pendatang kulit putih. Dan kita yang ikut "menyaksikan" petualangannya ke dunia leluhurnya merasa banyak mengetahui berbagai segi sosiologi, antropologi, politik, dan budaya negeri itu.

Dalam buku Religion of Java, Clifford Geertz telah memberikan gambaran yang mungkin dianggap lengkap dan luas mengenai "permukaan" sebuah masyarakat Jawa di sebuah kota kecil di Jawa Timur; sementara itu di dalam Para Priyayi Umar Kayam mengungkapkan beberapa segi saja dari dunia dan pengalaman beberapa orang Jawa, namun Umar Kayam menyusup jauh ke bawah permukaannya. Dan Umar Kayam sekaligus juga menyiratkan penilaian terhadapnya. Geertz adalah seorang sarjana asing sedangkan Umar Kayam adalah seorang sastrawan kita yang berasal dari Jawa. Contoh lain menyangkut pengarang yang sama, yakni A.A. Navis. Dalam bukunya mengenai adat Minangkabau, Alam Terkembang Menjadi Guru, A.A. Navis memberikan gambaran permukaan yang luas mengenai masyarakat itu, sementara dalam cerpen "Robohnya Surau Kami" ia langsung masuk ke bawah permukaan untuk mengungkapkan inti masalah yang ada dalam kehidupan orang Minang.

Saya sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa dari karya sastra kita hanya bisa mendapatkan informasi mengenai berbagai hal. Sastra memang bisa informatif, tetapi ia juga kreatif. Yang ditawarkannya tidak hanya informasi tetapi juga pengalaman estetis, pengalaman masuk ke dalam keindahan yang disalurkan lewat bahasa. Ketrampilan pengarang mempergunakan bahasanya itulah bahkan yang kadang-kadang membuat kita menganggap bahwa dunia rekaan itu lebih nyata dari dunia yang kita hidupi sehari-hari. Bahwa fiksi itu lebih nyata dari fakta. Itulah sebabnya dengan mudah kita bisa terlibat secara emosional dengan peristiwa dan tokoh rekaan yang ada dalam novel. Itulah juga sebabnya maka tidak jarang karya sastra dilarang beredar karena dianggap melakukan intervensi ke dalam kehidupan nyata, itu pula sebabnya maka "ada" kuburan Sitti Nurbaya di Padang.

IV. Seperti yang tersirat dalam uraian terdahulu, sastra tidak hanya berurusan dengan dunia pribadi sastrawan tetapi juga, dan pada dasarnya, berurusan dengan dunia sosial, usaha manusia untuk menyesuaikan diri dalam dunia itu, dan sekaligus usahanya untuk senantiasa mengubahnya sehingga menjadi hunian yang lebih baik. Sastra adalah usaha untuk menciptakan kembali dunia sosial itu: hubungan-hubungan keluarga, politik, agama, dan sebagainya. Ia juga menggarisbawahi peranannya dalam keluarga dan lembaga-lembaga lain, mengungkapkan konflik dan ketegangan antarkelompok dan antargolongan. Seperti halnya sosiologi, sastra sebenarnya berhubungan dengan tekstur sosial, ekonomi, dan politik. Namun, setidaknya menurut keyakinan Alan Swingewood, seorang sosiolog, sastra berbuat lebih dari itu dengan mengatasi sekedar deskripsi dan analisis obyektif dan ilmiah, dan masuk menyusup ke bawah permukaan kehidupan sosial untuk mengungkapkan cara-cara manusia menghayati masyarakatnya. Bahkan menurut seorang sosiolog lain, tanpa kesaksian sastra, pengamat masyarakat tidak akan mampu melihat sebaik-baiknya masyarakat secara utuh. Dengan kata-kata Richard Hoggart, "Without the full literary witness, the student of society will be blind to the fullness of a society life.."

Sehubungan dengan keinginan kita untuk terus-menerus meningkatkan taraf pergaulan kita dengan bangsa-bangsa lain, usaha untuk menerjemahkan karya sastra asing patut mendapat pujian. Dengan membaca cerita pendek Yukio Mishima yang berjudul "Sepukku," misalnya, kita tidak hanya mendapat gambaran obyektif dan ilmiah mengenai "upacara" bunuh diri dalam masyarakat Jepang, tetapi bisa menghayati bagaimana hal itu berlangsung, lengkap dengan detil perasaan dan emosi yang menggerakkannya. Penghayatan itu perlu untuk pemahaman, dan pada gilirannya pemahaman itu mutlak diperlukan bagi usaha pergaulan yang lebih baik.

Namun, tentu saja dalam usaha bergaul itu kita tidak hanya harus menerima; kita juga harus memberi. Masalahnya adalah apa yang bisa kita berikan dan bagaimana memberikannya. Kita tentu saja bisa menawarkan karya sastra kita kepada bangsa lain, sebagai salah satu usaha penting agar bangsa lain memahami dan menghayati dunia kita. Sayang bahwa tidak begitu saja sastra kita, yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan Daerah, kita sodorkan begitu saja. Bahasa-bahasa kita belum lagi menjadi alat komunikasi antarbangsa. Sebagai perbandingan saya akan menyebut sastra modern Afrika. Banyak di antara sastra benua itu ditulis dalam bahasa-bahasa bekas penjajah, bahasa-bahasa Barat yang diterima sebagai bahasa antarbangsa. Kita tidak usah heran bahwa beberapa sastrawan benua itu segera mendapat perhatian dunia, kata lain untuk pemahaman dan penghayatan masyarakat dunia. Dan tentu saja kita juga tidak usah iri jika salah seorang sastrawan Nigeria, Wole Soyinka, menerima hadiah Nobel untuk kesusastraan pada tahun 1986. Hadiah itu tentu saja bukan merupakan satu-satunya ukuran penilaian dan perhatian, namun setidaknya merupakan salah satu ukuran itu.

Selama ini Indonesia sudah menghasilkan sangat banyak dunia jinjingan itu. Usaha untuk mempromosikan negeri kita ini lewat kebudayaan, mau tidak mau harus ditunjang dengan usaha penerjemahan karya sastra kita secara terus-menerus dan profesional. Yang bisa kita tawarkan tentu tidak hanya terbatas pada sastra modern, yang telah menghasilkan beberapa karya yang setaraf dengan yang dihasilkan negeri lain yang disinggung sebelumnya, tetapi juga sastra daerah dan sastra klasik. Kita menyadari sepenuhnya bahwa dunia kita tidak berawal kemarin sore, tetapi sejak ratusan atau ribuan tahun yang lalu, jauh sebelum nenek-moyang kita menciptakan Hang Tuah, Cindur Mato, Raden Panji, dan Sangkuriang. Dari dunia Barat kita mengenal karya-karya Homerus, William Shakespeare, dan T.S. Eliot, yang mencakup jangka waktu ribuan tahun. Dari anak benua Asia Selatan kita mengenal Mahabharata sampai dengan karya V.S. Naipaul., yang mencakup ribuan tahun. Haiku dan karya Yasunari Kawabata juga berjarak ratusan tahun; itu pun kita kenal. Jadi, tentu sangat banyak yang bisa kita tawarkan kepada bangsa lain, agar mereka bisa juga menghayati kita; agar dalam pergaulan antarbangsa itu berlaku kaidah "memberi dan menerima". Agar bangsa lain juga mempunyai kesempatan untuk menghayati kita sebagai bangsa yang telah membentuk kebudayaannya selama ribuan tahun.

V. Mengenai kedua hal itu ada baiknya kita membaca semacam kesimpulan yang ditarik oleh seorang pakar sastra Melayu klasik, Sir Richard Winstedt dalam pengantarnya tentang sastra Melayu klasik, A History of Classical Malay Literature.5 Katanya "Any one who surveys the field of Malay literature will be struck by the amazing abundance of its foreign flora and fauna and the rarity of indigenous growth." Siapa pun yang mengamati taman sastra Melayu klasik akan dikejutkan oleh melimpahruahnya flora dan fauna asing serta langkanya tanaman asli. Yang dimaksudkan Winstedt adalah bahwa sastra Melayu ternyata diperkaya oleh pengaruh asing dan bahkan jarang sekali yang merupakan ciptaan asli, tidak saja dari segi tema tetapi juga bahasanya. Bahasa Melayu diperkaya oleh kosakata dari bahasa-bahasa di Asia Barat, Tengah, dan Selatan; asal-usul beberapa pengarang awal sastra Melayu di zaman lampau pun ada kaitannya dengan negeri-negeri tersebut. Kita pun bahkan sempat mengembangkan aksara Jawi dan Pegon, yang berasal dari aksara Arab. Seperti halnya yang terjadi dalam bahasa Inggris, pengaruh asing itulah ternyata yang telah memperkokoh bahasa Melayu.

Kesimpulan yang bisa ditarik dari gambaran tersebut adalah bahwa bangsa kita ini ternyata senantiasa terbuka terhadap pengaruh asing dan sama sekali tidak menunjukkan sikap kawatir atau tendah diri menghadapinya. Bangsa kita bahkan sengaja mengambil anasir kebudayaan asing tersebut dan mengembangkannya sesuai dengan keperluannya sendiri. Kita sekarang tentunya tidak akan mengatakan bahwa bangsa kita telah kehilangan kebudayaannya, telah digusur dan dikuasai oleh kebudayaan asing. Kebudayaan mana pun di dunia ini mengalami hal yang serupa. Kita mengetahui bahwa kebudayaan-kebudayaan Korea dan Jepang bersumber pada kebudayaan Cina, tetapi sekarang kita dengan mudah bisa membedakan ketiga kebudayaan tersebut. Sastra serta aksara Jepang dan Korea klasik bersumber pada sastra dan aksara Cina, namun ketiganya sekarang masing-masing mengembangkan sastra modern yang mau tidak mau telah bersinggungan dengan sastra Barat. Dan jika kita berbicara mengenai sastra Inggris, misalnya, kita boleh menanyakan naskah drama Shakespeare yang mana gerangan yang benar-benar asli?

Yang saya contohkan itu ada katannya dengan masa lalu, ketika jaringan komunikasi tidak secanggih masa kini. Di zaman sekarang ini tidak akan mungkin suatu kebudayaan berkembang sendiri tanpa bersinggungan dengan kebudayaan lain. Kita memang harus mengakui bahwa kebudayaan yang kuat memang cenderung mempengaruhi yang lebih lemah. Jika pendukung kebudayaan yang lebih lemah itu bersikap pasif, tentu ada kemungkinan ia hanya mendapatkan yang diberikan sekedarnya saja. Jika ia bersikap aktif, ia bisa memilih segala sesuatu yang terkandung dalam kebudayaan lain, yang bisa dimanfaatkannya untuk memperkaya dan memperkuat diri sendiri. Jadi, kita jangan takut dan was-was terhadap kebudayaan asing, tetapi justru harus aktif mencari dan merebut kebudayaan asing yang kita anggap baik dan bisa dimanfaatkan.

Sampai di sini sebenarnya kita berbicara mengenai sastra elit. Kitab-kitab yang pada zaman lampau itu disadur atau ditiru dari khasanah bangsa lain bukanlah bacaan populer dalam pengertian kita sekarang ini. Hasil kebudayaan itu beredar di kalangan sangat terbatas, yakni keraton atau pusat-pusat kebudayaan serta agama yang sama sekali jauh dari pengertian kita tentang khalayak ramai. Namun, hasil pengambilalihan kebudayaan asing itu akhirnya turun ke rakyat banyak juga dalam bentuk yang bisa saja sama sekali berbeda, disesuaikan dengan kekayaan budaya yang ada sebelumnya. Wayang yang mendasarkan kisah-kisahnya pada Mahabharata dan Ramayana, misalnya, telah mengubah hasil budaya elit itu menjadi hasil kesenian yang bisa dinikmati rakyat banyak, yang mencakup rakyat kecil sampai lapisan paling atas dalam masyarakat meskipun sama sekali tidak ada hubungannya dengan pengertian massa.

VI. Sebenarnya, setiap kali berbicara mengenai penyusupan atau pengaruh kesusastraan asing, kita berbicara mengenai apa yang disebut kebudayaan massa. Kebudayaan massa adalah istilah kita untuk mass culture, istilah Inggris yang konon berasal dari bahasa Jerman Masse dan Kultur. Kebudayaan massa sebenarnya merupakan istilah yang mengandung nada mengejek atau merendahkan; istilah ini merupakan pasangan dari high culture, kebudayaan elit atau kebudayaan tinggi. Kebudayaan tinggi mengacu tidak hanya ke berbagai jenis kesenian produk simbolik yang menjadi pilihan kaum elit terpelajar dalam masyarakat Barat, tetapi juga ke segala sesuatu yang ada kaitannya dengan pikiran dan perasaan kaum yang menjatuhkan pilihan atas jenis kesenian dan produk simbolik tersebut.

Mass atau Masse mengacu ke mayoritas masyarakat Eropa yang tak terpelajar dan nonaristokratik, terutama sekali masyarakat yang sekarang ini biasa kita sebut sebagai kelas menengah bawah, kelas pekerja, dan kaum miskin. Jadi, jika kebudayaan elit dikaitkan dengan mereka yang "berbudaya," maka kebudayaan massa dianggap milik mayoritas masyarakat yang uncultured atau unlettered "tak berbudaya" ini jelas mengandung ejekan dan sikap merendahkan. Massa mengandung pengertian kelompok manusia yang tidak bisa dipilah-pilahkan, semacam kerumunan, yang di dalamnya tidak ada lagi individu. Kebudayaan massa diciptakan semata-mata untuk konsumsi masyarakat serupa itu.

Dalam khasanah kritik kebudayaan Barat, berbagai istilah yang nadanya merendahkan telah dipergunakan untuk menggambarkan hasil kebudayaan massa dan pendukungnya. Dalam tulisan Dwight Macdonald,6 misalnya, disebutkan bahwa pendukung kebudayaan massa disebut adultized children œanak-anak yang didewasakan dan infantile adults orang dewasa yang kekanak-kenakan. Alasannya adalah karena anak-anak zaman sekarang ini menonton segala jenis acara televisi yang sebenarnya sama sekali tidak disediakan untuk mereka, sementara orang-orang dewasa gemar membaca komik dan nonton film, terutama kartun, yang sebenarnya dimaksudkan untuk anak-anak. Dalam keadaan semacam itu masyarakat mengalami perkembangan yang aneh: anak-anak menjadi sangat cepat dewasa, tetapi pada batas tertentu orang dewasa tidak lagi bisa berkembang cita rasanya. Konsep ini ada kaitannya dengan pengertian immature taste cita rasa yang belum dewasa yang disebut oleh A. Kaplan untuk menggambarkan cita rasa para pendukung kesenian populer.7 Jika boleh disimpulkan dengan meminjam istilah yang dipergunakan oleh Matthew Arnold dalam Culture and Anarchy, kebudayaan elit itulah culture sedangkan kebudayaan massa itu tak lain merupakan anarchy.

Pada hakikatnya, yang kita risaukan adalah kebudayaan massa ini yang, sebagai akibat dari semakin berkembangnya komunikasi, memang dalam kenyataanya tidak mungkin kita hindari. Dalam pembicaraan sehari-hari dan dalam berbagai seminar, umumnya kita menunjuk televisi sebagai penyebar utama kebudayaan massa itu; sesudahnya baru media massa cetak dan perangkat audio-visual lain. Gans, seorang pembela kebudayaan massa, menyebut empat hal utama yang menyebabkan kerisauan kita itu. Saya akan mencoba menafsirkannya dengan sesekali mengacu ke berbagai gagasan lain yang ada kaitannya.

Pertama, kita risau terhadap kebudayaan massa sebab ia diproduksi secara besar-besaran berdasarkan perhitungan dagang belaka. Pencipta kebudayaan populer hanya mencari keuntungan dari khalayak tanpa mempertimbangkan dampak baik-buruknya terhadap konsumen. Hasil kebudayaan massa diciptakan sebagai komoditi yang berorientasi kepada produsen dalam hal laba dan bersandar pada konsumen dalam soal cita rasa.

Kedua, kebudayaan massa itu merusak kebudayaan elit dengan cara meminjam atau mencuri atau memperalatnya. Bahkan boleh dikatakan menyedot potensi yang ada pada kebudayaan elit. Sudah disebut sebelumnya bahwa konsumen hasil kebudayaan massa adalah rakyat kecil yang tidak berbudaya. Bagaimanapun mereka ini ingin tampak berbudaya; oleh karenanya diperlukan berbagai unsur kebudayaan elit untuk memberi sentuhan tertentu agar yang sifatnya massa itu menjadi istimewa. Sebagai contoh di bidang musik kita bisa mendengar potongan lagu Beethoven disulap menjadi lagu populer yang dengan mudah bisa disebarluaskan. Di samping itu tak terhitung banyaknya potensi artistik seniman di berbagai bidang yang dipergunakan untuk penciptaan kebudayaan massa. Berapa banyak seniman potensial yang demi sesuap nasi telah dipaksa bekerja siang malam untuk menciptakan berbagai iklan dan acara televisi murahan di ribuan rumah produksi yang tumbuh di dunia ini.

Ketiga, kebudayaan massa menanamkan pengaruh yang sangat buruk terhadap khalayak; ingat pengaruh sex, crime, and violence yang merupakan ciri kuat dalam kebudayaan massa. Karena orientasinya adalah cita rasa yang rendah, tema-tema yang dipilih oleh kebudayaan massa adalah tentu saja yang mudah dicerna tanpa banyak memerlukan renungan dan acuan. Seks, kejahatan, dan kekerasan seperti yang sangat banyak kita dapatkan di televisi merupakan tema-tema pilihan utama sebab dianggap bisa langsung menarik perhatian konsumen.

Keempat, penyebarluasan kebudayaan massa dianggap tidak hanya memerosotkan atau mengurangi nilai kebudayaan (elit) itu sendiri, tetapi juga menciptakan khalayak yang pasif yang sangat cepat memberikan reaksi terhadap berbagai teknik godaan dan bujukan, sehingga membuat peluang bagi munculnya totaliterisme. Dalam kaitannya dengan ini muncul pula konsep mengenai the lonely crowd kerumunan orang yang kesepian serta massa yang dengan mudah dibakar emosinya, baik untuk menuruti bujukan iklan atau hasutan penggerak massa atau agitator politik. Karena massa sudah terbiasa menerima bimbingan satu arah dari berbagai media, dengan mudah pula mereka itu digerakkan untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama seperti berdemonstrasi, mogok, dan mengadakan perusakan meskipun sebenarnya masing-masing tidak saling mengenal.

Gans membela kebudayaan massa dengan menyatakan bahwa segala yang dituduhkan itu bisa saja dituduhkan kepada kebudayaan elit. Hasil kebudayaan elit pun sekarang ini bisa saja diproduksi secara besar-besaran dengan maksud utama mencari keuntungan. Musik klasik, misalnya, bisa dipergelarkan di depan ribuan pengunjung atau disiarkan televisi; bahkan bisa juga disebarluaskan lewat rekaman. Dalam sejarah kreatifitas di Barat, dan tentunya di mana saja, seniman klasik pun suka mencuri atau meminjam berbagai unsur kebudayaan rakyat untuk diolah dan dikembangkan sesuai dengan cita rasa si seniman dan kelompok masyarakatnya. Di samping itu, bukankah masalah seks, kejahatan, dan kekerasan merupakan tema yang biasa beredar juga dalam kebudayaan elit? Karya sastra, drama, dan seni rupa elit membuktikan hal tersebut. Dalam hal bimbingan kepada khalayak, tentunya kebudayaan elit pun melakukannya; itulah justru segi didaktik yang mendasari kebudayaan elit, meskipun mungkin tidak disampaikan segampang kebudayaan massa.

Dalam perkembangan selanjutnya, pandangan pascamodernis juga menolak pemilahan gaya Matthew Arnold yang menyebut kebudayaan elit sebagai culture dan kebudayaan massa sebagai anarchy. Pandangan itu menolak konsep wibawa lapisan elit untuk menyatakan satu-satunya kebenaran, dan malah sebaliknya menyampaikan kenyataan bahwa yang ada ialah kebhinekaan suara dalam kebudayaan. Dalam hal ini kesatuan suara dianggap tidak ada lagi. Di samping itu, masyarakat kita sekarang ini tidak lagi dibagi-bagi dalam lapisan-lapisan sosial dan cita rasa yang berjenjang tetapi terdiri atas kelompok-kelompok yang memiliki cita rasa yang berbeda-beda. Oleh Gans keadaan ini disebut sebagai taste culture kebudayaan cita rasa.

Jika kita tidak memperhatian alasan-alasan tersebut, masalah yang kita hadapi adalah bahwa kebudayaan massa tidak (lagi) hanya ditujukan bagi orang miskin dan kelas bawah, tetapi untuk "kita semua" artinya, ia dikawatirkan akan menggilas semuanya dan menjadi satu-satunya "kebudayaan" yang menguasai semua bangsa di dunia ini. Kita sebaiknya menyadari bahwa selama ini berbagai jenis kebudayaan, termasuk yang massa dan elit, yang asing dan daerah, tetap ada di sekitar kita. Tentu saja kita boleh memilihnya kalau mau. Juga perlu disadari bahwa manusia bisa bergerak dari kebudayaan elit ke kebudayaan massa, bisa memilih bedhaya ketawang atau tayuban, bisa memilih Beethoven atau Koes Plus, boleh memilih golf atau sepakbola.

VII. Tetapi kita tetap saja sering mengungkapkan bahwa sastra kita berada dalam bahaya; pandangan yang berlebihan bahkan menyatakan bahwa sastra kita akan disudutkan oleh berbagai hambatan untuk akhirnya hidup merana. Tuduhan terhadap lemahnya minat baca masyarakat sering kita gugurkan sendiri dengan kekawatiran kita akan dominasi sastra terjemahan yang mengalami kemajuan yang pesat akhir-akhir ini. Sebenarnya kekawatiran itu tidak perlu ada sebab sejarah telah mencatat juga dominasi sastra terjemahan dalam kehidupan nenek-moyang kita; dengan sangat cekatan kita bahkan telah menyadur sastra asing dan menjadikannya bagian penting yang ikut mengembangkan kebudayaan kita.

Sastra asing yang telah diterjemahkan tidak lagi menjadi milik bahasa dan kebudayaan sumbernya, tetapi merupakan bagian tak terpisahkan dari bahasa dan kebudayaan sasarannya. Dengan demikian maka Arjuna, Abunawas, dan Pinokio adalah para tetangga kita yang sudah kita lupakan asal-usulnya. Mungkin pada awalnya dulu kita tertarik kepada tokoh-tokoh itu justru karena mereka menghadirkan hal penting yang tidak hadir dalam kehidupan kita. Keasingan itulah yang menjadikan mereka itu "hidup" dalam kehidupan sehari-hari kita. Ditinjau dari sudut pandang ini, kegiatan penerjemahan sastra sekarang ini sebaiknya tidak ditanggapi sebagai ancaman kehidupan sastra kita, tetapi justru harus kita syukuri sebagai hal yang memberikan sumbangan bagi pemenuhan kehendak kuat kita untuk mendapatkan akses ke berbagai hal yang tidak bisa kita dapatkan.

Sastra, dalam zaman kita ini, telah menjadi barang dagangan. Penerbit adalah perusahaan yang dalam kegiatannya harus selalu memperhitungkan untung-rugi. Tampaknya, dalam perhitungan itu menerbitkan karya terjemahan lebih menguntungkan daripada menerbitkan karya asli. Karya sastra asing yang siap diterjemahkan tidak terhitung jumlahnya, dan kita semua tahu bahwa proses menerjemahkan tentu lebih sederhana daripada proses menciptakan karya asli. Di samping itu jaminan lakunya karya sastra tampaknya lebih pasti sebab tidak jarang ditunjang oleh iklan mengenai keberhasilannya di luar negeri dan pemunculannya dalam bentuk kesenian lain, terutama film.

Kita juga sering mengeluh mengapa kita tidak mampu menghasilkan karya sastra yang, tidak usah adikarya, tetapi cermat, kokoh, dan padu seperti yang sering kita jumpai dalam sastra terjemahan. Dalam hal ini kita harus memperhatikan dua sistem yang berkaitan dengan kelahiran karya sastra, yakni kepengarangan dan penerbitan. Sastrawan kita umumnya bekerja sendirian; ia harus bekerja secepat-cepatnya tanpa bantuan orang lain untuk memeriksa karangannya. Umumnya sastrawan kita memiliki kerja rangkap, artinya ia tidak bisa mempergunakan seluruh waktunya hanya untuk mengarang. Kesan kuat yang kita dapatkan dari kebanyakan karya sastra kita adalah penulisannya yang sangat tergesa-gesa.

Perkembangan sastra kita banyak ditaja oleh penyelenggaraan berbagai sayembara penulisan. Saya curiga kebanyakan naskah yang masuk dalam sayembara itu ditulis dengan sangat tergesa-gesa; sebuah novelette mungkin ditulis satu atau dua minggu sebelum dikirimkan; hampir tidak ada tanda-tanda bahwa kebanyakan naskah itu penah diperiksa ulang oleh penulisnya. Di lain pihak, penerbit juga tidak memiliki banyak waktu di samping juga tidak memiliki kemampuan cukup untuk menyuntingnya. Penerbit koran, majalah, atau buku di negeri ini tampaknya benar-benar menyadari pentingnya gerak cepat dalam mengumpulkan laba sebanyak-banyaknya. Di dalam sistemnya, hampir tidak disediakan ruang untuk kemampuan yang benar-benar handal dalam penyuntingan. Sastra bukan kitab suci yang tidak bisa disunting agar menjadi lebih baik; sastrawan bukan nabi yang menyampaikan Sabda. Sastrawan hanyalah manusia biasa yang berusaha menciptakan benda budaya yang, tentu saja, bisa mengandung cacat yang bisa diperbaiki pihak lain.

Dalam hal ini proses penulisan novel John Grisham bisa dijadikan sekedar contoh. Ia adalah novelis yang memberi kesan bahwa novel-novelnya ditulis berdasarkan "penelitian" yang cermat atas masalah yang ditulisnya, mungkin justru karena itu ia tidak menulis tergesa-gesa dan sekali jadi. Mungkin saja novel-novelnya sebenarnya tidak merupakan hasil kerja sendirian; ada editor yang membantu melahirkan novelnya. Konon, novelnya The Rainmaker yang hak ciptanya untuk film bisa mencapai 16 milyar rupiah, mula-mula terdiri atas sekitar 750 halaman yang kemudian dirampingkan menjadi 434 halaman saja.9 Perampingan itu bisa saja dilakukan olehnya sendiri, bisa juga oleh pasukan penyunting yang benar-benar mampu melakukan tugasnya.

Harus kita akui bahwa sepandai-pandainya pengarang, bisa saja ia melakukan kekeliruan atau kecerobohan dalam cara penyampaian maupun apa yang disampaikan. Ia mempunyai kewajiban untuk memeriksa ulang dan memperbaikinya, dan penerbit yang baik juga berkewajiban untuk membantunya. Naskah yang masuk ke penerbit dan penyelenggara sayembara penulisan menunjukkan bahwa kecerobohan pengarang sangat tiggi kadarnya. Menurut pengalaman saya, praktis tidak pernah ada naskah peserta sayembara penulisan yang seratus persen siap untuk diterbitkan. Karena tidak adanya usaha untuk menyelenggarakan penyuntingan yang sungguh-sungguh, sebenarnya sebagian besar sastra kita adalah sastra yang ceroboh. Kita pernah membaca kritik F. Rahardi, penyair dan redaktur majalah pertanian Trubus, terhadap kecerobohan A. Tohari mengenai berbagai masalah pertanian dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.10 Novel Umar Kayam yang banyak mengandung kosa kata Jawa, Para Priyayi, agak menderita sebab tampaknya si penyunting tidak begitu menguasai penulisan ejaan bahasa Jawa. Dan amat sangat banyak karya sastra kita yang mencerminkan lemahnya penguasaan bahasa; cerita rekaan menjadi bertele-tele dan menjengkelkan, puisi menjadi gelap.

Sastra tidak bisa dilahirkan dengan tergesa-gesa, pengarang tidak bisa sepenuhnya bekerja sendirian ia langsung atau tak langsung memerlukan bantuan bidang dan keahlian lain. Sistem kesusastraan kita tampaknya belum sepenuhnya siap menunjang kelahiran sastra di zaman yang serba cepat ini. Bisnis penerbitan mensyaratkan dipercepatnya proses penerbitan dan dilipatgandakannya judul buku baru. Tujuan penerbitan yang mementingkan faktor laba ini segera tampak bertentangan dengan hakikat sastra yang memang tidak bisa dipaksa tergesa-gesa dan ceroboh. Yang sekarang diperlukan adalah suatu sistem penerbitan sastra yang bisa mempertemukan keduanya. Jadi, kita harus menciptakan sistem kepengarangan dan penerbitan yang bisa bekerja sama dengan baik, tanpa harus merugikan perkembangan kesusastraan.


Rabu, 17 September 2008

PESAWAT TEMPUR GENERASI 4

F-14 Tomcat


F-14 Tomcat

F-14 merupakan pesawat tempur superioritas udara utama Angkatan Laut Amerika Serikat dari tahun 1972 sampai tahun 2006. Pesawat ini juga memiliki kemampuan serang darat setelah dilengkapi sistem LANTIRN.[2] Pesawat ini mulai dikembangkan setelah kegagalan proyek F-111B, dan merupakan pesawat tempur generasi ke-4 pertama Amerika Serikat, yang dirancang dengan didasari pengalaman bertempur dengan pesawat-pesawat MiG buatan Soviet pada Perang Vietnam.

Pesawat ini mulai dipakai oleh Angkatan Laut Amerika Serikat pada tahun 1972, menggantikan F-4 Phantom II. Pesawat ini juga sempat diekspor ke Iran pada tahun 1976. Pada tanggal 22 September 2006, pesawat ini resmi dipensiunkan dan digantikan oleh F/A-18E/F Super Hornet.



Dua F-14A terbang di atas kapal induk Perancis, FOCH.

Sejarah

Program F-14 Tomcat dimulai ketika pengembangan F-111B, varian Angkatan Laut Amerika Serikat dari program Tactical Fighter Experimental (TFX), dianggap tidak memuaskan, karena terlalu berat dan kurang lincah. Angkatan Laut AS membutuhkan pesawat tempur pertahanan armada (fleet air defense fighter, FADF) yang peran utamanya adalah mencegat pesawat pengebom Soviet sebelum mereka bisa meluncurkan rudal ke arah armada laut, selain itu Angkatan Laut AS juga menginginkan pesawat yang memiliki kemampuan superioritas udara yang baik.

Pada bulan Mei 1968, Kongres Amerika Serikat menghentikan pendanaan untuk program F-111B, membuat Angkatan Laut AS bisa mengembangkan pesawat baru yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Angkatan Laut AS kemudian memulai tender untuk pengembangan pesawat baru. Dari lima perusahaan yang memberikan proposal (empat diantaranya menawarkan pesawat dengan sayap lipat seperti F-111), McDonnell Douglas dan Grumman dipilih sebagai finalis pada Desember 1968, dan akhirnya Grumman memenangkan kontrak ini pada Januari 1969. Sebelum ini, Grumman memang merupakan mitra dalam pengembangan F-111B, dan mereka sudah mulai memikirkan dan merancang pesawat baru ketika merasakan bahwa program F-111B akan gagal. Desain awal dan perkiraan harga sebelumnya sudah sempat disebarkan ke petinggi Angkatan Laut sebagai alternatif F-111B. F-14 pertama kali terbang pada tanggal 21 Desember 1970, hanya 22 bulan setelah Grumman memenangkan kontrak ini.


Varian
  • 712 F-14 telah diproduksi antara tahun 1969 sampai 1991 di pabrik Grumman di Calverton, Long Island.
  • YF-14A: Prototip dan versi praproduksi. 12 buah.
  • F-14A: Versi produksi pertama, interseptor berkursi ganda untuk Angkatan Laut AS. Modifikasi pada saat-saat akhir menambahkan kemampuan serang darat. 545 buah dikirim ke Angkatan Laut AS, dan 79 buah ke Iran. 102 F-14A terakhir menggunakan mesin TF30-P-414A yang lebih baru. Selain itu, F-14A ke-80 diproduksi untuk Iran, tetapi akhirnya dipakai AS.
  • F-14A + Plus atau F-14B: Pembaruan dari F-14A dengan mesin GE F110-400. 38 pesawat baru diproduksi, dan 48 buah F-14A dimutakhirkan ke bersi B ini. Pada akhir tahun 1990-an, 67 F-14B diperbarui dengan badan pesawat baru dan peralatan avionik mutakhir. Pesawat dengan modifikasi ini diberi nama F-14B Upgrade. F-14D Super Tomcat: Varian terakhir F-14. Mesin TF-30 diganti dengan GE F110-400, seperti pada F-14B. F-14D juga ditambah peralatan avionik digital terbaru termasuk Glass cockpit, dan radar APG-71 menggantikan AWG-9. 37 pesawat baru diproduksi, dan 18 F-14A dimutakhirkan ke versi D.


F-14 di atas kapal USS Enterprise


Spesifikasi (F-14D Super Tomcat)

Karakteristik umum
  • Kru: 2 (Pilot and Radar Intercept Officer)
  • Panjang: 61 ft 9 in (18.6 m)
  • Lebar sayap:
  • Spread: 64 ft (19 m)
  • Swept: 38 ft swept (11.4 m)
  • Tinggi: 16 ft (4.8 m)
  • Area sayap: 565 ft² (54.5 m²)


F-14 Skema


  • Airfoil: NACA 64A209.65 mod root, 64A208.91 mod tip
  • Berat kosong: 42,000 lb (19,000 kg)
  • Berat terisi: 61,000 lb (28,000 kg)
  • Berat maksimum lepas landas: 72,900 lb (32,800 kg)
  • Mesin: 2× General Electric F110-GE-400 afterburning turbofans
  • Dorongan kering: 13,810 lbf (72 kN) each
  • Dorongan dengan afterburner: 27,800 lbf (126 kN) each
Performa
  • Kecepatan maksimum: Mach 2.34 (1,544 mph, 2,485 km/h) at high altitude
  • Radius tempur: 500 nm (576 mi, 927 km)
  • Jarak jangkau ferri: 1,600 nm (1,800 mi, 3,000 km)
  • Tingkat panjat: >45,000 ft/min (230 m/s)
  • Wing loading: 113.4 lb/ft² (553.9 kg/m²)
  • Dorongan/berat: 0.91

Persenjataan
  • 13,000 lb (5,900 kg) of ordnance including:
  • Guns: 1× M61 Vulcan 20 mm Gatling Gun
  • Missiles: AIM-54 Phoenix, AIM-7 Sparrow and AIM-9 Sidewinder air-to-air
  • Loading configurations:
  • 2× AIM-9 + 6× AIM-54
  • 2× AIM-9 + 2× AIM-54 + 4× AIM-7
  • 2× AIM-9 + 4× AIM-54 + 2× AIM-7
  • 2× AIM-9 + 6× AIM-7
  • 4× AIM-9 + 4× AIM-54
  • 4× AIM-9 + 4× AIM-7
  • Bombs: GBU-10, GBU-12, GBU-16, GBU-24, GBU-24E Paveway I/II/III LGB, GBU-31, GBU-38 JDAM, Mk-20 Rockeye II, Mk-82, Mk-83 and Mk-84 series iron bombs

  • Avionik
  • Hughes AN/APG-71 radar
  • AN/ASN-130 INS, IRST, TCS

Catatan kaki
  • Bob Petrella (Writer), Max Raphael (Narrator). (2002, March 12). Modern Marvels [DVD]. The History Channel.
  • F-14 Tomcat fighter. U.S. Navy Fact File. United States Navy. URL diakses pada 2007-01-20
  • Barisic, Sonja, "Navy's iconic 'Top Gun' jet makes ceremonial final flight, with 1 hitch", Associated Press, 2006-09-22. Diakses pada 2007-01-20. Baca selengkapnya di sini.
  • Connolly, Admiral Thomas F. Connolly; Edited by Capt. E.T. Woolridge (1995). The TFX-One Fighter For All, in "Into the Jet Age". Annapolis: Naval Institute Press.
  • Anft, Torsten Grumman Memorial Park. Home of M.A.T.S.. URL diakses pada 2006-12-28
  • a b F-14 Tomcat. GlobalSecurity.org. URL diakses pada 2006-09-30
  • a b Anft, Torsent F-14 Bureau Numbers F-14 Bureau Numbers. Home of M.A.T.S.. URL diakses pada 2006-09-30
Foto-foto: