(The Analytical Text of Nicomachean Ethics)
"Every art an every inquiry, and smilary every action and persuit, is thought to ain at some good, and for this reason the good has rightly been declared to that at which all things aim" (Aristotles: Nicomachean Ethics, 1094a 1-4).
Seluruh aktivitas hidup manusia terarah pada satu tujuan yaitu kepada "yang baik", yang kepadanya segala sesuatu tertuju. Tindakan kompleks hidup manusia hanyalah demi suatu nilai yang menjadikan hidupnya lebih bermakna. Dengan demikian aktivitas hidup manusia dilakukan demi mencapai suatu kepenuhan bagi hidup itu sendiri, bukan demi yang lain.
Ada dua macam tujuan yang hendak dicapai manusia dalam hidupnya. Pertama, ada tujuan yang dikejar demi suatu nilai yang lain. Kedua, ada tujuan yang hanya dicapai demi nilai tujuan itu sendiri. Uang, misalnya, orang bekerja tentu supaya mendapatkan upah, yaitu uang. Dengan uang itu, orang bisa membeli apa saja, misalnya makanan. Dan dengan makanan orang akan mendapatkan energi sehingga orang dapat melakukan aktivitas dalam hidup kesehariannya, dan seterusnya bergulir sebagaiman aktivitas itu dilakukan dalam hidup sehari-hari. Akan tetapi, masih ada tujuan yang lebih tinggi, yakni suatu tujuan yang dikejar demi tujuan itu sendiri dimana sampai pada perhentian terakhir tidak ada nilai yang lebih tinggi lagi selain pada tujuan itu sendiri. Artinya, bahwa sesuatu yang dicari bukan demi nilai yang lain melainkan demi dirinya sendiri, sesuatu yang bernilai bagi dirinya sendiri sehingga ia menjadi tujuan terakhir, penuh, utuh.
Apa tujuan terakhir dari segala aktivitas hidup manusia? Yaitu kebaikan tertinggi yang merealisaikan hidup manusia itu sendiri. Apakah kebaikan tertinggi itu? Kebahagiaan (eudaimonia), sebagai kebaikan tertinggi yang merupakan tujuan terakhir dari segala aktivitas hidup manusia (K. Bertens:47). Kebahagiaan mengandaikan bahwa manusia tinggal dalam suatu keadaan dimana tidak lagi mencari dan mengejar suatu nilai yang lain. Tidak masuk akal apabila dalam kebahagiaannya ia masih menuntut seuatu yang lebih, sebab kebahagiaan itulah yang baik baginya. Kebahagiaan bernilai bukan demi nilai yang lebih tinggi lainnya, melainkan demi dirinya sendiri, karena dengan mencapai tujuan hidupnya, manusia mencapai kepenuhan dalam dirinya, sepenuhnya (Franz Magnis Suseno:29)
Perlu diperhatikan bahwa orang mempunyai pandangan yang berbeda mengenai kebahagiaan. Ada yang memandang kebahagiaan itu adalah kesenangan. Ada yang menganggap intisari kebahagiaan adalah kekayaan. Ada pula yang menjunjung status sosial atau kedudukan sebagai tempat untuk menggapai kebahagiaan. Akan tetapi bukan itu yang dimaksud dengan kebahagiaan sebagai kebaikan tertinggi. Orang benar-benar merasa bahagia jika ia menjalankan funginya sebagai manusia dengan baik. Misalnya...seorang pelukis akan mencapai kepenuhannya apa bila ia bisa mengapresiasikan seluruh dirinya dengan baik dalam lukisannya.
Manusia sebagai makhluk rasional mampu mencetuskan apa yang bernilai baginya. Manusia memiliki keutamaan (arete) yaitu rasio, yang merupakan perwujudan segala kemungkinan yang baik dari manusia. Rasio mempunyai peran penting dalam dalam membentuk keutamaan. Rasio merupakan unsur yang abasi dalam diri manusia. Rasio merupakan seuatu yang bersifat ilahi, atau yang ilahi dalam diri kita (K. Bertens:47). Namun, ada dua keutamaan, pertama, keutamaan intelektual, dimana keutamaan menyempurnakan rasio itu sendiri. Kedua, moral, yakni keutamaan yang dapat mengatur perilaku hidup manusia. Dalam keutamaan intelektual, ada dua fungsi rasio, yakni rasio yang memungkinkan manusia untuk mengenal kebenaran, atau rasio teoritis; dan rasio yang dapat memberi petunjuk untuk mengetahui apa yang harus diputuskan dalam keadaan tertentu, atau yang disebut dengan rasio praktis.
Aktivitas rsional manusia mempengaruhi segala aktivitas hidupnya. Dengan kemampuan rasionya manusia berusaha untuk bertindak baik demi tujuan tindakannya tersebut. Dengan akal budinya pula manusia dapat menilai baik buruk tindakannya. Baik, apabila tindakannya menghasilkan suatu kebaikan. Buruk, apabila tindakannya tidak mempunyai nilai. Bertindak benar berarti segala tindakannya selalu terarah kepada kebaikan yang membawa kepada kebahagiaan. Tindakannya disebut salah sejauh tindakan itu mencegah kebahagiaan. Dengan demikian, orang bertindak berdasarkan keutamaan yang merupakan pencetusan aktivitas akal budi. Kebahagiaan bukan diraih dengan mengejar kenikmatan atau dengan menghindari sakit. Kebahagiaan diraih melalui tindakan yang mengaktualisasikan atau merealisasikan potensi-potensi yang baik yang ada dalam diri manusia itu sendiri, dengan cara mengembangkan diri dan itulah tugas dan tanggungjawab manusia. Itulah yang menentukan hidupnya bermutu atau tidak, bahagia atau tidak.
Tindakan yang merupakan usaha merealisasikan diri tampak nyata dalam dalam interaksinya dengan masyarakat, dalam hidup keseharianya, sebagai makhluk sosial (zoon politikon). sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup tanpan keberadaan yang lain, yaitu pengakuan akan adanya sesama, berelasi, berinteraksi satu dengan yang lain, dalam lingkungannya, keluarga, dan negara...
Bacaan:
Bertens K., Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia. Yogyakarta, Kanisius, 2000
_______., Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta, Kanisius, 1975
Soseno, Franz Magnis, 13 Tokoh Etika. Yogyakarta, Kanisius, 1997
Tidak ada komentar:
Posting Komentar